Aditya menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik di Sulawesi Selatan mencerminkan optimisme terhadap perkembangan ekonomi daerah yang harus diantisipasi melalui kesiapan infrastruktur.
"Pertumbuhan kebutuhan listrik merupakan indikator positif berkembangnya investasi, industri, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, pembangunan infrastruktur yang kami lakukan hari ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan listrik saat ini, tetapi menjadi investasi jangka panjang dalam mewujudkan kedaulatan energi serta mendukung pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan secara berkelanjutan," tambahnya.
Baca Juga:
Pemerkosa Mahasiswi di Makassar Ditangkap di Surabaya, Ternyata Masih Buka Lowongan Kerja Palsu
Untuk menjawab proyeksi tersebut, PLN terus memperkuat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di Sulawesi Selatan.
Pada sisi pembangkitan, RUPTL 2025–2034 mencatat rencana pengembangan pembangkit non-Energi Baru Terbarukan (non-EBT) sebesar 920 MW serta pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 264,5 MW, termasuk pengembangan PLTA Bakaru 2 dan PLTA Pokko sebagai bagian dari peningkatan bauran energi bersih.
Di sektor transmisi, PLN juga mengembangkan dua koridor backbone utama. Koridor Backbone Selatan memiliki total panjang jalur sekitar 876 kilometer sirkuit (kms) yang menghubungkan lima Gardu Induk Ekstra Tinggi (GITET), sedangkan Koridor Backbone Selatan–Tengah–Tenggara sepanjang sekitar 968 kilometer sirkuit (kms) akan memperkuat interkoneksi sistem kelistrikan dari Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tenggara.
Baca Juga:
PLN UIP Sulawesi Perkuat Implementasi SMP dan SMK3 untuk Dukung Keandalan Sistem Kelistrikan di Wilayah Sulawesi Tenggara
Selain itu, sejumlah proyek transmisi strategis di Sulawesi Selatan terus dipercepat penyelesaiannya, di antaranya SUTT 150 kV Punagaya–Bantaeng, SUTT 150 kV Polman–Mamasa, dan SUTT 150 kV Soppeng–Bengo, yang akan semakin meningkatkan keandalan sistem penyaluran tenaga listrik sekaligus mendukung pemerataan pasokan energi di berbagai wilayah.
Senior Manager Perencanaan PT PLN (Persero) UIP Sulawesi, M. E. Subrata, menjelaskan bahwa seluruh rencana pembangunan infrastruktur tersebut disusun berdasarkan proyeksi kebutuhan listrik jangka panjang agar kesiapan sistem berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah.
"Perencanaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan mengacu pada proyeksi kebutuhan listrik sebagaimana tertuang dalam RUPTL 2025–2034. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, dan gardu induk dapat dilakukan secara tepat waktu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan keandalan sistem, serta membuka ruang bagi masuknya investasi baru di Sulawesi Selatan," jelas Subrata.