WAHANANEWS.CO, Jakarta - Lonjakan konflik Timur Tengah membuat pasokan minyak global terganggu, memicu negara-negara Asia berebut membeli minyak Rusia.
Negara seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Indonesia, dan Sri Lanka kini mulai mengantre untuk mendapatkan pasokan minyak dari Rusia.
Baca Juga:
Ketua Ikasa "93" Resmikan Masjid Aisyah di Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Sumatera Utara
Situasi ini terjadi seiring terganggunya distribusi minyak dunia akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sejumlah sumber menyebutkan lonjakan permintaan ini berpotensi melampaui kemampuan pasokan Rusia.
Rusia sendiri telah kehilangan pasar utamanya di Eropa sejak perang dengan Ukraina.
Baca Juga:
BMKG Peringatkan Dampak Siklon Narelle, Cuaca Ekstrem Masih Mengancam
Kini, sekitar 80 persen ekspor minyak Rusia terserap oleh India dan China, disusul oleh Turki.
Dalam beberapa pekan terakhir, tren pembelian minyak Rusia mulai meluas ke negara-negara Asia lainnya.
“Permintaan tinggi utamanya untuk tujuan alternatif, akibatnya mungkin akan ada saatnya kami sulit untuk memenuhi tambahan permintaan,” kata Dmitry Peskov, Jumat (27/3/2026).
Di tengah situasi ini, sekitar seperlima produksi minyak global terhambat masuk ke pasar dunia.
Kondisi tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur strategis Selat Hormuz.
Situasi perang justru memberikan keuntungan bagi Rusia karena harga minyak melonjak dan adanya pelonggaran sanksi sementara dari Amerika Serikat.
Pendapatan dari sektor minyak dan gas menyumbang sekitar seperempat pemasukan negara yang dipimpin Vladimir Putin tersebut.
Meski diuntungkan, kapasitas ekspor Rusia saat ini tidak sepenuhnya optimal.
Sekitar 40 persen infrastruktur minyak Rusia dilaporkan terdampak serangan drone Ukraina.
Filipina menjadi salah satu negara yang mulai kembali membeli minyak Rusia setelah jeda panjang.
Negara tersebut telah mengimpor dua kargo minyak ESPO Blend dengan total volume mencapai 1,5 juta barel.
Pengiriman dilakukan oleh kapal tanker menuju pelabuhan Limay yang menjadi terminal kilang Bataan.
Langkah ini menandai pembelian pertama Filipina terhadap minyak Rusia dalam lima tahun terakhir.
Thailand juga mulai menjajaki peluang serupa melalui pembicaraan dengan pihak Rusia.
Sementara itu, Sri Lanka dilaporkan turut membuka komunikasi terkait pasokan minyak dari negara tersebut.
Perdana Menteri Vietnam juga melakukan kunjungan ke Moskow dalam upaya memperkuat kerja sama energi.
Ia meminta perusahaan Rusia untuk meningkatkan investasi sekaligus menjamin pasokan minyak jangka panjang ke Vietnam.
Indonesia pun tidak menutup kemungkinan mengikuti langkah serupa.
“Kenapa tidak? Amerika Serikat saja sekarang sudah membuka opsi untuk minyak Rusia,” kata Bahlil Lahadalia, Selasa (17/3/2026).
Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Kebutuhan nasional tercatat lebih dari 1,5 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari.
Kekurangan tersebut membuat Indonesia harus mengandalkan pasokan dari luar negeri.
“Yang penting bagi kita sekarang bagaimana ketersediaan barang dan harganya kompetitif,” ujarnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]