Di sisi lain, Myrdal melihat belanja pemerintah juga mengalami akselerasi dan realisasinya lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan ekonomi kita masih cukup agresif pada kuartal pertama ini," katanya.
Baca Juga:
Strategi Sederhana Membantu Anak Tidur Nyenyak Demi Perkembangan Optimal
Dari sisi ekspor, pada kuartal I-2026, permintaan global belum terganggu akibat pecahnya perang di Timur Tengah sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi belum terdampak.
Untuk kuartal II-2026, Myrdal khawatir ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan. Menurut Myrdal, periode ini minim momen spesial, seperti Lebaran. Sementara itu, belanja pemerintah mulai diarahkan untuk program prioritas pembangunan.
Kendati melambat, Myrdal tetap meyakini ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih berada di kisaran 5%. Hal ini karena pemerintah belum melakukan kenaikan harga BBM bersubsidi. Kemudian harga LPG 3 Kg dan tarif dasar listrik juga tidak mengalami perubahan.
Baca Juga:
Menkeu Sri Mulyani Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I/2024 Capai 5,17%
"Jadi itu yang membuat kenapa ekonomi kita sampai kuartal kedua itu kita proyeksikan masih tumbuh di atas 5%. Karena konsumsi kita masih kuat. Harga Pertalite, solar masih sama, LPG juga masih sama," ujarnya.
"Kita lihat sih untuk kuartal kedua harusnya masih bisa tumbuh 5,31%," tegasnya.
Dari sisi ekspor, Myrdal menilai dampak kenaikan harga komoditas global akan berpengaruh terhadap output atau produksi Indonesia.