Menopang pertumbuhan yang tinggi ini, Andry memperkirakan konsumsi rumah tangga akan tetap tangguh di angka 5,2% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2026, lebih tinggi dari 5,1% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025.
"Hal ini didukung oleh indikator konsumsi yang lebih kuat, dengan pertumbuhan penjualan ritel rata-rata mencapai sekitar 5,7% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2026 dari 4,7% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025," ujarnya.
Baca Juga:
Strategi Sederhana Membantu Anak Tidur Nyenyak Demi Perkembangan Optimal
Ini diperkuat dengan laporan Indeks Pengeluaran Mandiri yang meningkat rata-rata 6,4% (yoy) dari 5,3% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025. Kenaikan ini, kata Andry, didorong oleh pengeluaran yang lebih tinggi di sektor elektronik dan barang konsumsi.
Sementara itu, Andry menilai belanja pemerintah diperkirakan akan pulih menjadi 5,5% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2026, dari 4,6% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025.
"Hal ini didukung oleh percepatan fiskal, dengan pertumbuhan belanja APBN mencapai 31,4% yoy pada Maret 2026, didorong oleh pencairan belanja personel, bantuan sosial, dan program prioritas," ujarnya.
Baca Juga:
Menkeu Sri Mulyani Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I/2024 Capai 5,17%
Di sisi lain, Andry juga memperkirakan investasi diperkirakan akan menguat menjadi 6,5% (yoy) pada kuartal I-2026, naik dari 6,1% yoy pada kuartal IV-2025. Kondisi ini didukung oleh indikator utama yang membaik a.l. kinerja PMI Manufaktur yang mencapai rata-rata 52,2 pada kuartal pertama tahun 2026 dan penjualan semen meningkat sebesar 5,0% pada kuartal I-2026.
"Ini mencerminkan aktivitas infrastruktur yang berkelanjutan meskipun ada sedikit penurunan menjelang akhir kuartal," ujarnya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]