Korea Selatan (Korsel) yang biasanya tak masuk peringkat 10 besar pengimpor karet dari Sumut, pada Februari kemarin tercatat menduduki posisi lima teratas dengan permintaan hingga 3,35% dari total ekspor.
Edy menyebut, hal itu mengindikasikan adanya peningkatan permintaan dari industri hilir di Korsel, khususnya sektor ban dan manufaktur berbasis karet.
Baca Juga:
Warga Tolak Rencana Penutupan Stasiun Karet Jakarta, Khususnya Pengguna KRL
“Kemungkinan terkait dengan kebutuhan blending antara karet alam dan sintetis,” tambahnya.
Selain kelima negara utama di atas, total ekspor karet Sumut ke kawasan Uni Eropa pada Februari 2026 tercatat sebesar ±13,5% dari total ekspor atau sekitar 2.420 ton. Ada 11 negara yang menjadi tujuan ekspor ke Uni Eropa, dengan perincian ke Italia sebanyak 2,6%; Jerman 2,2%; Prancis 2,1%; Spanyol 1,6%; dan Rumania 1,6%. Diikuti Belgia 1,5%; Luksemburg 0,6%; Slovenia 0,6%; Polandia 0,4%; Bulgaria 0,2%; serta Belanda 0,1%.
“Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi Uni Eropa cukup signifikan secara agregat. Namun, tersebar luas tanpa dominasi kuat dari satu negara tertentu,” kata Edy.
Baca Juga:
Kasus Pengolahan Karet Kementan, KPK Cegah 8 Orang ke Luar Negeri
Hambatan Ekspor Karet Sumut
Gapkindo Sumut memerinci beberapa faktor utama yang masih menekan kinerja ekspor karet alam dari Sumut. Selain permintaan global yang belum pulih sepenuhnya, penundaan pengapalan (delay shipment) akibat kendala jadwal kapal yang terpengaruh dinamika logistik global termasuk gangguan jalur pelayaran di kawasan strategis seperti Selat Hormuz juga berandil.
Di sisi lain, Edy menekankan bahwa pasokan karet alam dari Sumut hingga saat ini masih terbatas seiring dengan musim gugur daun (wintering) yang menyebabkan penurunan produksi di tingkat kebun.