Ia juga menyoroti strategi co-firing biomassa pada PLTU sebagai pendekatan transisi yang realistis, sekaligus menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan komitmen lingkungan.
“Transformasi energi tidak harus ekstrem, tetapi harus konsisten dan terukur, dan PLN menunjukkan pendekatan yang adaptif dalam hal ini,” ucapnya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dorong Pemerintah dan PLN Gencar Sosialisasikan Bahaya Listrik ke Masyarakat
Dalam pengembangan energi berbasis sumber daya domestik, Tohom melihat pemanfaatan kelapa sawit oleh PLN bukan hanya sebagai alternatif bahan bakar, melainkan sebagai langkah strategis yang berpotensi mengubah struktur ketahanan energi nasional secara lebih dalam.
Pemanfaatan ini mencakup biodiesel berbasis Crude Palm Oil (CPO) yang digunakan untuk menggantikan solar pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), serta penggunaan biomassa dari limbah sawit seperti cangkang dan tandan kosong untuk co-firing di PLTU.
Selain itu, limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) juga diolah menjadi biogas yang dapat dikonversi menjadi listrik dan disalurkan ke jaringan PLN.
Baca Juga:
Mulai April 2026 ASN WFH Setiap Jumat, Begini Aturannya
“Ini adalah shifting yang penting, karena selama ini kita mengekspor CPO dalam bentuk mentah, sementara nilai strategisnya justru ada ketika diolah menjadi energi untuk kebutuhan domestik,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan co-firing biomassa memiliki dimensi efisiensi yang sering luput dari perhatian, karena tidak hanya mengurangi konsumsi batu bara, tetapi juga menekan biaya logistik energi di wilayah yang dekat dengan sumber perkebunan.
Dalam perspektif yang lebih luas, Tohom melihat potensi terbentuknya “cluster energi lokal” di kawasan sawit, di mana produksi, distribusi, dan konsumsi energi terjadi dalam satu ekosistem terintegrasi.