WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kenaikan harga elpiji 12 kilogram di sejumlah wilayah Jabodetabek memicu perhatian publik di tengah gejolak energi global, namun pemerintah menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan konsekuensi mekanisme pasar untuk produk nonsubsidi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa elpiji 12 kg memang ditujukan bagi kelompok masyarakat mampu sehingga kenaikan harga tidak menjadi persoalan dalam kerangka kebijakan energi nasional.
Baca Juga:
Polda Kalsel Sita 179 Tabung Elpiji Subsidi dari Pangkalan Nakal Langgar HET
"Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan," ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa negara tetap hadir untuk seluruh masyarakat, namun kebijakan subsidi harus diprioritaskan bagi kelompok yang paling membutuhkan agar distribusi bantuan lebih tepat sasaran.
"Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok," ucapnya.
Baca Juga:
Pertamina Larang Pengecer Jual Elpiji 3 Kg, Begini Cara Daftar Jadi Pangkalan Resmi
Kenaikan harga elpiji nonsubsidi ini terjadi seiring meningkatnya harga liquified petroleum gas (LPG) global yang dipicu gangguan distribusi energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa harga elpiji subsidi 3 kilogram tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan di tengah tekanan global tersebut.
"Kalau yang subsidi (harganya) tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah aturan," kata dia.
Bahlil menegaskan bahwa harga elpiji nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar sehingga fluktuasi harga merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam sistem energi terbuka.
"Harga pasar (yang nonsubsidi). Jadi contoh model kayak orang kaya, masa orang pendapatannya di atas Rp 500 juta per bulan disuruh pakai elpiji 3 kg? Sorry ye," kata Bahlil.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat berpenghasilan tinggi tidak menggunakan elpiji subsidi 3 kg yang seharusnya diperuntukkan bagi kelompok kurang mampu, demi menjaga keadilan distribusi energi.
Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa pasokan elpiji nasional dalam kondisi aman meskipun terjadi dinamika global yang memengaruhi rantai pasok energi.
"Alhamdulillah Pertamina dengan kami di ESDM, dan semua pemangku kepentingan selalu melakukan konsolidasi untuk mencari alternatif-alternatif terbaik dan sekarang posisi elpiji kita di atas standar minimum nasional. Jadi insyaallah clear," pungkas Bahlil.
Sebagai langkah antisipatif, pemerintah juga telah membuka sumber impor elpiji baru dari Rusia guna memperkuat ketahanan energi nasional dan menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]