WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia di ambang guncangan besar, krisis energi akibat perang di Timur Tengah kini mengancam stabilitas ekonomi global secara luas.
Peringatan keras itu disampaikan Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, yang menilai situasi saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan krisis energi sebelumnya, Senin (23/3/2026).
Baca Juga:
Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp573 Juta, FIFA Jadi Sorotan
Berbicara di National Press Club di Canberra, Australia, Birol menggambarkan konflik yang sedang berlangsung sebagai krisis kompleks yang menggabungkan tekanan minyak dan gas sekaligus.
“Krisis ini, seperti yang terjadi saat ini, sekarang merupakan gabungan dua krisis minyak dan satu krisis gas,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut bahkan melampaui dampak dua guncangan minyak pada era 1970-an serta krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina jika digabungkan.
Baca Juga:
Fantastis! Jasa Joki UTBK di Surabaya Dipatok Hingga Ratusan Juta Rupiah
“Ekonomi global menghadapi ancaman besar saat ini, dan saya sangat berharap masalah ini akan diselesaikan sesegera mungkin,” tambahnya.
Ketegangan geopolitik semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Iran saling melontarkan ancaman di tengah perang yang telah memasuki minggu keempat.
Situasi semakin krusial karena Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia, dilaporkan mengalami gangguan hingga memicu lonjakan harga energi global.