Pengamat sosial ekonomi Universitas Padjadjaran, Domy Sokara, menilai perubahan ini menunjukkan bahwa pasar digital sedang memasuki fase baru yang lebih menuntut kejujuran pengalaman.
Menurut Domy, konsumen modern tidak hanya melihat seberapa besar popularitas orang yang mempromosikan produk, tetapi juga menilai apakah pengalaman yang disampaikan terasa relevan, masuk akal, dan dapat dipercaya.
Baca Juga:
Detik-detik Serda Rangga dan Briptu Nanda Gugur Dihantam Arus Saat Selamatkan Pelajar
“Dalam ekonomi digital, kepercayaan adalah mata uang sosial yang sangat mahal,” kata Domy.
Ia menilai brand yang mampu membangun percakapan organik dengan konsumen akan memiliki ketahanan reputasi yang lebih kuat dibandingkan brand yang hanya mengandalkan iklan sesaat.
“Ketika konsumen merasa dilibatkan, mereka tidak hanya membeli produk, tetapi ikut menjadi bagian dari cerita merek tersebut,” ujar Domy.
Baca Juga:
Studi Terbaru Ungkap Olahraga Bisa Bantu Naikkan IQ Anak dan Remaja hingga Rata-rata 4 Poin
Domy juga menilai pemasaran berbasis komunitas dapat menjadi peluang bagi UMKM dan startup untuk bersaing tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang terlalu besar.
Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan berbasis konsumen tetap membutuhkan transparansi agar rekomendasi tidak berubah menjadi promosi terselubung yang kehilangan kepercayaan.
“Autentisitas harus dijaga, karena begitu konsumen merasa dimanipulasi, kepercayaan yang dibangun bisa runtuh jauh lebih cepat daripada kampanye itu sendiri,” kata Domy.