WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif realisasi investasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang mencapai Rp32 triliun sepanjang semester I-2026 dan menciptakan 34.162 lapangan kerja baru.
“Capaian Rp32 triliun menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap kuat, tetapi ukuran berikutnya adalah seberapa besar investasi itu mampu menciptakan pekerjaan, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga:
Pemerintah Buka Akses Produsen Lokal di KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Industri Nasional Jangan Jadi Penonton
Menurut Tohom, dominasi penanaman modal asing sebesar Rp24 triliun juga menunjukkan Indonesia mempunyai daya tarik besar dalam kompetisi memperebutkan investasi global.
“Modal asing harus kita sambut karena membawa peluang pertumbuhan, tetapi Indonesia juga harus memastikan ada transfer teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, dan keterlibatan industri dalam negeri,” ujarnya.
Dewan Nasional KEK mencatat realisasi investasi semester I-2026 terdiri dari penanaman modal asing sebesar Rp24 triliun dan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp8 triliun.
Baca Juga:
Investasi Kumulatif KEK Capai Rp368 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Kompetitif di Mata Investor
Secara kumulatif sejak 2012 hingga 28 Juli 2026, investasi yang terealisasi di KEK telah mencapai Rp368 triliun dari 444 badan usaha dan pelaku usaha dengan penyerapan 283.234 tenaga kerja.
Tohom melihat capaian tersebut sebagai modal penting untuk mempercepat agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun pertumbuhan ekonomi berbasis investasi, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja.
“KEK harus menjadi tempat bertemunya investasi, hilirisasi, teknologi, tenaga kerja Indonesia, dan pertumbuhan ekonomi daerah dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” katanya.
Pemerintah saat ini juga mengarahkan pengembangan KEK menuju hilirisasi industri, advanced manufacturing, ekonomi digital, layanan kesehatan internasional, hingga ekosistem energi hijau.
Salah satu pengembangan hilirisasi berlangsung di KEK Galang Batang yang mengintegrasikan produksi bauksit, smelter grade alumina hingga aluminium ingot.
Sementara itu, pengembangan ekonomi digital dilakukan melalui pusat data, kecerdasan buatan dan konektivitas internasional, termasuk kabel bawah laut Nongsa–Changi Cable sepanjang 50 kilometer.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan KEK harus mempunyai hubungan ekonomi yang kuat dengan kota dan kabupaten di sekeliling kawasan.
“Jangan sampai KEK tumbuh sangat cepat tetapi wilayah di sekitarnya hanya menjadi penonton, karena keberhasilan kawasan seharusnya ikut menggerakkan UMKM, tenaga kerja, permukiman, transportasi, dan pusat ekonomi baru,” ujar Tohom.
Menurutnya, konsep aglomerasi menjadi semakin penting karena investasi berskala besar akan menciptakan kebutuhan baru terhadap infrastruktur, energi, logistik, hunian dan berbagai layanan publik.
“Kalau dirancang dengan benar, satu investasi besar di KEK bisa menciptakan efek berantai yang jauh lebih besar daripada nilai investasi awalnya,” katanya.
Di KEK Gresik, rencana investasi senilai US$600 juta disiapkan PT GEABH Joint Technology untuk pembangunan pabrik melamin berkapasitas 120.000 ton per tahun.
Sementara PT Evyap Sabun Indonesia di KEK Sei Mangkei telah merealisasikan investasi US$130 juta untuk sektor hilirisasi kelapa sawit.
KEK Kendal juga memulai pembangunan pabrik PT Hoi Fu senilai Rp1,12 triliun yang berpotensi menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja.
Tohom menilai perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan antarnegara ke depan bukan hanya memperebutkan modal, tetapi juga memperebutkan industri, teknologi dan rantai pasok global.
“Indonesia harus berani naik kelas dari tempat investasi menjadi pusat produksi, pusat teknologi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia,” ujarnya.
Ia juga mendukung langkah pemerintah yang mulai mengarahkan evaluasi KEK berdasarkan dampak ekonomi, bukan hanya besarnya nilai investasi yang berhasil dihimpun.
“Investasi Rp100 triliun belum tentu lebih bernilai bagi bangsa dibanding investasi Rp50 triliun apabila yang Rp50 triliun menghasilkan lapangan kerja lebih besar, ekspor lebih tinggi, transfer teknologi, dan tumbuhnya industri lokal,” kata Tohom.
Menurutnya, indikator keberhasilan KEK harus semakin terukur melalui penciptaan pekerjaan, nilai ekspor, produktivitas, keterlibatan UMKM, penggunaan produk dalam negeri serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“MARTABAT Prabowo-Gibran berharap KEK menjadi salah satu mesin besar transformasi ekonomi Indonesia, karena investasi yang terbaik adalah investasi yang membuat negara semakin kuat dan rakyat semakin sejahtera,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sandy]