WAHANANEWS.CO, Jakarta - Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) semakin mendapat perhatian besar dari kalangan investor, baik domestik maupun internasional.
Tingginya minat tersebut didorong oleh prospek bisnis yang dinilai menjanjikan, terutama karena adanya kepastian skema kontrak jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) bersama PT PLN (Persero) dengan masa berlaku hingga 30 tahun.
Baca Juga:
Sugeng Suparwoto: PLTSa Tetap Dibutuhkan, Lokasi Pembangunan Harus Utamakan Keselamatan Warga
Skema tersebut memberikan jaminan kepastian investasi bagi pelaku usaha sekaligus menjadi daya tarik utama bagi investor yang ingin menanamkan modal pada sektor energi hijau.
Selain berkontribusi terhadap pengelolaan sampah perkotaan, proyek ini juga dipandang mampu mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
Menanggapi besarnya antusiasme investor terhadap proyek PSEL, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, memastikan pemerintah terus melakukan pembenahan regulasi guna mempercepat realisasi pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Baca Juga:
Pastikan Lahan Sesuai Target, DPRD Kota Bekasi Tinjau Kesiapan Ground Breaking PSEL Sumurbatu
Penyederhanaan aturan tersebut diharapkan mampu menghilangkan berbagai hambatan birokrasi sekaligus menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.
“Tugas saya cuma satu, regulasi diperbaiki. Dari ratusan tinggal tiga aturan. Kalau ada hambatan, saya tinggal undang. Kalau masih tidak bisa saya atasi, saya lapor. Presiden yang memimpin," ujar Zulkifli dalam acara Waste to Energy Talks 2026 di Jakarta.
Menurutnya, penyederhanaan regulasi menjadi langkah penting agar pembangunan proyek PSEL di berbagai daerah dapat berjalan lebih cepat sehingga persoalan penumpukan sampah di kawasan perkotaan dapat segera diatasi.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah modern melalui PSEL tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru melalui perdagangan karbon.
Daerah yang berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan nantinya dapat memperoleh manfaat ekonomi melalui penjualan kredit karbon yang diakui secara resmi oleh pemerintah.
Sesi seremoni pembuangan sampah pada tempatnya dalam acara 'Waste to Energy' yang dilakukan secara simbolis oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (tengah), Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat (keempat dari kiri), Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir (keempat dari kanan), Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar (kedua dari kanan), Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono (kedua dari kiri), Wali Kota Bogor, Didie Rachim (ketiga dari kiri), serta Wali Kota Medan, Rico Waas (ketiga dari kanan).
"Begitu Bapak mengurangi emisi 20 juta ton, ya mungkin Rp100 miliar - Rp150 miliar bisa dapat karena dijual di pasar karbon. Saya telah berhasil mengurangi emisi sekian juta atau sekian giga ton ekuivalen CO2, maka dijual ke pasar karbon. Nanti, dari KLHK akan dapat Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia dan itu dijual di pasar karbon," tutur Jumhur.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut diharapkan mampu mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang berorientasi pada pengurangan emisi sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru dari sektor lingkungan.
Sementara itu, Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa proyek PSEL mendapatkan respons yang sangat positif dari berbagai lembaga keuangan dan investor global.
Bahkan, tidak hanya investor asing, sejumlah institusi keuangan nasional di luar kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) juga menunjukkan ketertarikan untuk ikut berinvestasi.
"Alhamdulillah banyak sekali interest baik dari luar negeri dan juga dari dalam negeri, dan ini malah banyak juga nonbank himbara yang ingin masuk. Artinya kan semua partisipan semangat masuk ke proyek ini. Jadi, proyek ini secara akumulatif memang proyek waste to energy terbesar di dunia, makanya untuk orang yang berpartisipasi investment semua berlomba-lomba untuk hadir ke sini. Jadi, ya alhamdulillah antusiasmenya amat tinggi," ujar Pandu.
Menurut Pandu, besarnya antusiasme tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek pengembangan proyek PSEL sebagai salah satu investasi strategis di sektor energi dan lingkungan.
Di sisi lain, Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menyampaikan bahwa implementasi proyek PSEL yang didukung melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 akan memperkuat ekosistem ketenagalistrikan nasional sekaligus membantu penyelesaian persoalan sampah di berbagai wilayah.
PLN, kata Suroso, berkomitmen menjadi pembeli utama (offtaker) atas listrik yang dihasilkan dari proyek PSEL sehingga para investor memiliki kepastian dalam menjalankan usahanya.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, dalam sesi diskusi panel menyampaikan bahwa Perseroan siap menyerap daya listrik yang diproduksi oleh para mitra guna program PSEL dapat memperkuat portofolio sumber energi primer secara optimal.
"Kami memberikan jaminan kepada para mitra bahwa listrik yang dihasilkan akan diambil oleh PLN sebagai offtaker. Para mitra tidak perlu khawatir, komitmen jangka panjang PLN sudah teruji di berbagai sektor pembangkit lainnya yang bahkan memiliki Power Purchase Agreement (PPA) lebih dari 30 tahun. Jaminan ini akan terjaga dengan sangat baik," tegas Suroso.
Ke depan, proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik diharapkan tidak hanya menjadi solusi dalam mengurangi persoalan darurat sampah yang dihadapi banyak daerah, tetapi juga menjadi salah satu pilar penting dalam mempercepat bauran energi baru terbarukan nasional.
Melalui pengembangan PSEL, pemerintah optimistis target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 dapat dicapai secara lebih efektif, seiring meningkatnya pemanfaatan energi bersih berbasis pengelolaan limbah.
"Dalam konteks transisi energi dari berbasis termal ke energi baru terbarukan, PSEL menambah portofolio sumber energi kami sekaligus mengatasi darurat sampah. Karena itu, jika perlu program ini diterapkan di semua kota di Indonesia, PLN sangat siap," pungkas Suroso (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]