Penurunan itu membuat kapitalisasi pasar Tesla terpangkas sekitar 250 miliar dollar AS atau setara Rp 4.481 triliun sehingga menjadi koreksi mingguan terdalam sejak 2022.
Bagi investor, penyebab tekanan terhadap kedua perusahaan tersebut dinilai memiliki pola yang sama, yakni besarnya investasi belum mampu diimbangi keuntungan yang sepadan.
Baca Juga:
Perusahaan Ini Pakai AI, Produksi Bermasalah Akhirnya Rekrut Lagi Pegawai yang di-PHK
Sementara saham perusahaan teknologi besar tertekan, arus dana investor justru mengalir deras menuju perusahaan-perusahaan penyedia infrastruktur AI.
Super Micro Computer (SMCI) menjadi salah satu penerima manfaat terbesar setelah harga sahamnya melonjak sekitar 25 persen.
Kenaikan itu terjadi setelah perusahaan mengumumkan berhasil memperoleh pesanan baru senilai lebih dari 60 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.075 triliun hanya dalam satu kuartal.
Baca Juga:
PLN Amankan Pasokan Listrik Data Center BDx, ALPERKLINAS: Indonesia Butuh Infrastruktur Digital yang Berdaulat
Digital Realty (DLR) juga menikmati reli hampir 15 persen setelah melaporkan antrean kontrak penyewaan pusat data pada level tertinggi sepanjang sejarah.
Perusahaan tersebut bahkan menaikkan belanja modalnya pada pekan ini.
Berbeda dengan respons terhadap Alphabet, langkah ekspansi Digital Realty justru diapresiasi pasar karena pembangunan kapasitas pusat data dilakukan berdasarkan kontrak penyewaan yang telah dikantongi perusahaan.