Struktur Golden Cross: 3 Fase yang Wajib Kamu Kenali
Fase pertama biasanya terjadi setelah downtrend panjang atau fase sideways yang melelahkan. Pada fase ini, MA 50 cenderung berada di bawah MA 200 karena rata-rata harga jangka pendek masih tertahan oleh tekanan sebelumnya. Di periode ini, kamu sering melihat market dipenuhi narasi campur aduk: ada yang sudah optimis, ada yang masih trauma penurunan, dan harga bergerak maju mundur.
Baca Juga:
Prabowo akan sampaikan “Prabowonomics”, Konsep Pemikiran Ekonomi Presiden Prabowo dan Hasil Konkret 1 Tahun di WEF Davos
Fase kedua adalah momen perpotongan. MA 50 mulai menanjak dan menembus MA 200. Banyak orang mengira ini garis finis. Padahal ini lebih mirip gerbang masuk, bukan penutup cerita. Perpotongan bisa saja terjadi karena dorongan harga yang sementara, misalnya lonjakan singkat yang tidak disertai dukungan lanjutan.
Fase ketiga adalah yang sering membedakan sinyal berkualitas dari sinyal palsu: kemampuan MA 50 bertahan di atas MA 200, biasanya diiringi struktur higher low dan volume yang tidak melemah saat harga melakukan koreksi kecil. Di fase ini, tren baru mulai “bernapas.” Harga tidak lagi sekadar melonjak, tetapi mulai membangun dasar.
Kalau kamu menangkap tiga fase ini, kamu tidak mudah terpancing oleh satu perpotongan semata. Dengan begitu, golden cross menjadi alat untuk membaca ritme, bukan pemicu reaksi spontan. Ritme ini juga punya lawan yang sama terkenal, yaitu death cross.
Baca Juga:
PMN Jambi Matangkan Persiapan Pelantikan, Tegaskan Komitmen Media Profesional dan Berintegritas
Apa Itu Death Cross dalam Crypto?
Death cross adalah kebalikan dari golden cross: moving average jangka pendek turun dan menembus moving average jangka panjang dari atas ke bawah. Lagi-lagi, pasangan yang paling sering dipakai adalah MA 50 dan MA 200. Saat death cross muncul, banyak orang menganggapnya sebagai sinyal bearish besar.
Namun, di crypto, death cross sering muncul ketika penurunan sudah berjalan cukup jauh. Ini bukan kelemahan yang harus kamu benci, tetapi sifat alami moving average yang menghitung rata-rata masa lalu. Karena itu, death cross lebih cocok dipakai untuk mengonfirmasi bahwa tekanan turun memang sudah mengubah struktur jangka menengah dan jangka panjang, bukan untuk menebak puncak.