Death cross sering lahir saat pasar sudah lelah. Harga telah turun, sentimen memburuk, dan banyak posisi yang dulunya optimis mulai menyerah. Karena itu, death cross kerap muncul ketika tren turun sudah berjalan, bukan ketika penurunan baru dimulai. Bagi kamu yang disiplin, ini bisa berguna sebagai tanda bahwa kondisi sudah bergeser dan kamu perlu mengubah pendekatan, bukan terus berharap.
Perbedaan lain yang penting adalah cara keduanya berinteraksi dengan timeframe. Di timeframe besar seperti weekly, perpotongan MA cenderung lebih “berat” dan lebih jarang, sehingga noise lebih sedikit. Di timeframe kecil seperti 1 jam atau 4 jam, perpotongan lebih sering terjadi dan lebih mudah dipalsukan oleh volatilitas. Jadi, perbedaan golden cross dan death cross bukan hanya soal arah, tetapi juga soal seberapa “mahal” sinyal itu untuk dipercayai.
Baca Juga:
Prabowo akan sampaikan “Prabowonomics”, Konsep Pemikiran Ekonomi Presiden Prabowo dan Hasil Konkret 1 Tahun di WEF Davos
Seberapa Akurat Golden Cross dan Death Cross?
Jawaban yang jujur: akurasinya bergantung pada konteks. Golden cross dan death cross tidak dirancang untuk berdiri sendiri. Mereka bekerja paling baik sebagai konfirmasi, bukan sebagai satu-satunya alasan membuka atau menutup posisi.
Ada dua alasan utama. Pertama, moving average menghaluskan data harga. Ia membantu kamu melihat tren tanpa terlalu terjebak fluktuasi kecil. Tetapi proses menghaluskan itu membuat sinyal datang lebih lambat. Kedua, pasar crypto sering mengalami fase sideways yang panjang. Dalam kondisi ini, MA 50 dan MA 200 bisa saling mendekat, lalu beberapa kali berpotongan tanpa tren yang benar-benar terbentuk.
Baca Juga:
PMN Jambi Matangkan Persiapan Pelantikan, Tegaskan Komitmen Media Profesional dan Berintegritas
Yang pertama adalah volume. Sinyal crossover yang terjadi tanpa dukungan volume sering rapuh. Volume yang menguat saat harga menembus area penting bisa menjadi petunjuk bahwa pergerakannya tidak sekadar pantulan sesaat.
Yang kedua adalah konfluensi indikator. Banyak trader memadukan crossover dengan RSI untuk melihat apakah pasar sedang terlalu jenuh beli atau terlalu jenuh jual. Ada juga yang menambahkan MACD untuk membaca momentum. Dalam konteks ini, istilah seperti macd death cross sering muncul, karena sebagian orang ingin melihat apakah momentum MACD juga mendukung arah yang sama ketika MA crossover terjadi.
Yang sering dilupakan adalah struktur harga. Golden cross yang muncul ketika harga juga membentuk higher high dan higher low cenderung lebih meyakinkan daripada golden cross yang muncul saat harga masih terpental di range sempit. Sebaliknya, death cross yang muncul setelah serangkaian lower high dan breakdown support penting cenderung lebih sejalan dengan perubahan tren.