WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada operasional energi nasional, PT Pertamina (Persero) mengungkapkan empat kapalnya berada di kawasan tersebut dan dua di antaranya terpantau di sekitar Selat Hormuz yang kini menjadi titik rawan.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa posisi kapal-kapal tersebut terus diawasi secara intensif di tengah meningkatnya risiko akibat eskalasi konflik kawasan.
Baca Juga:
Iran Terus Gempur Israel dan Aset Amerika, Kedubes AS Tak Sanggup Evakuasi Warganya
"Untuk di Selat Hormuz memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana, mungkin ada empat, tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz," ujarnya ditemui di Grha Pertamina usai Buka Bersama dengan Media, Selasa (4/3/2025).
Ia menegaskan prioritas utama perusahaan saat ini adalah menjamin keselamatan seluruh awak kapal serta memastikan keamanan aset yang berada di wilayah berisiko tersebut.
"Jadi saat ini kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan dari para awak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada di sana," katanya.
Baca Juga:
MK Tekankan Proporsionalitas Parliamentary Threshold demi Stabilitas dan Kedaulatan Rakyat
Baron memastikan hingga saat ini seluruh kapal dan kru dalam kondisi aman, meskipun perusahaan tetap meningkatkan kewaspadaan.
"Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang bisa menyampaikan atau mengamankan aset kami dan para awak yang berada di sana," tuturnya.
Pertamina menegaskan akan terus memonitor perkembangan situasi geopolitik guna menjaga keselamatan kru sekaligus menjamin kelangsungan distribusi energi nasional.
Sebelumnya, perusahaan juga telah mengidentifikasi tiga unit bisnis strategis yang terdampak langsung dinamika kawasan, yakni PT Pertamina International Shipping (PIS) Non Captive terkait aktivitas pengangkutan energi global, Pertamina Internasional EP (PIEP) yang menjalankan operasi hulu di Basra, Irak, serta Pertamina Patra Niaga dalam pengadaan minyak mentah dan produk energi dari sumber di kawasan Timur Tengah.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]