Menurut dia, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 30 miliar dollar AS dengan surplus sebesar 18,11 miliar dollar AS pada 2025, yang merupakan surplus terbesar Indonesia.
“Oleh karena itu, pasar AS harus kita jaga dan optimalkan,” ucapnya.
Di sisi lain, Budi mengakui kondisi geopolitik global turut memberikan tantangan bagi berbagai sektor industri, termasuk tekstil. Meski demikian, ia menilai pelaku industri nasional tetap mampu beradaptasi.
“Secara global semua terdampak. Namun, pelaku usaha kita justru mampu berdaya saing dan berkompetisi dengan produk asing karena ekosistem kita lebih lengkap dibanding negara lain,” ujarnya.
Baca Juga:
Mendag Resmikan Pasar Tematik Industri Sidayu, Dorong Transformasi Pasar Rakyat Jadi Destinasi Wisata
Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana menegaskan pentingnya inovasi untuk menjaga daya saing industri di tengah tekanan global.
Ia menyebut inovasi perlu difokuskan pada pencarian bahan baku yang terjangkau serta modernisasi teknologi produksi.
Danang juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam mengendalikan impor, khususnya terhadap produk jadi ilegal, yang dinilai memberikan dampak positif bagi industri dalam negeri.
Baca Juga:
Pantau Harga Pascalebaran, Mendag Pastikan Stok Bapok Aman dan Terkendali
“Saat ini, pengendalian terhadap barang impor sudah bagus. Penegakan hukum terkait impor ilegal menjadi penyemangat bagi industri tekstil,” kata Danang.
Di kesempatan yang sama, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmadja menyampaikan bahwa penyelenggaraan Indo Intertex 2026 mendapat antusiasme tinggi dari pengunjung.
Ia mencatat, jumlah pengunjung telah mencapai lebih dari 10.000 orang hingga siang hari, setelah sebelumnya sekitar 14.000 orang hadir pada hari pertama.