WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, meyakini hilirisasi komoditas strategis, terutama kelapa sawit, kelapa, hingga gambir, mampu mendongkrak nilai tambah ekonomi Indonesia hingga Rp35.000 triliun.
Menurutnya, angka tersebut setara dengan sekitar 10 tahun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga:
Prabowo: Hilirisasi Harus Berbasis Teknologi Terbaik, Utamakan Manfaat untuk Rakyat
Amran menjelaskan, potensi terbesar berasal dari hilirisasi crude palm oil (CPO). Menurut dia, nilai ekspor CPO saat ini sekitar Rp1.000 triliun, namun dapat meningkat berkali-kali lipat jika seluruh produk diolah di dalam negeri.
"Nah kalau CPO ini Rp1.000 triliun, itu bisa 13 kali lipat. Ini pohon industrinya CPO," kata Amran dalam acara Pemilihan Ketua Umum Persatuan Wredatama (PWRI) Pertanian Masa Bhakti 2026-2931 di Kementan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Berdasarkan pohon industri tersebut, lanjutnya, produk turunan sawit sebenarnya bisa memberikan nilai tambah hingga 13 kali bahkan 19 kali lipat. Namun, ia menggunakan asumsi konservatif jika seluruh CPO hanya mampu memberikan nilai tambah 10 kali lipat.
Baca Juga:
Prabowo: Hilirisasi Kunci Kebangkitan dan Kemakmuran Bangsa
"Kali 10 saja kita hilirisasi CPO, itu bisa menghasilkan Rp10.000 triliun, CPO saja. Belum termasuk dalam negeri, hanya ekspor. Dan apa dampaknya pada negara lain? Terjadi pengangguran dan industrinya bisa terhenti. Ini senjata yang paling bagus untuk ekonomi kita (terhadap) dunia," tuturnya.
"Baru CPO kita pegang, dan kita nomor satu dunia. Inilah yang ditakuti orang-orang tertentu sehingga mengganggu lewat media sosial, menyebarkan fitnah sehingga ribut di medsos," sebut dia.
Tak hanya sawit, Amran juga memaparkan potensi hilirisasi kelapa. Dari paparannya, satu butir kelapa yang semula bernilai sekitar Rp1.350 dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti virgin coconut oil (VCO), coconut milk, minyak goreng, arang aktif, hingga geotekstil. Bahkan VCO disebut memiliki nilai jual mencapai Rp145.000 per liter atau sekitar 107 kali lipat dibanding nilai awal bahan bakunya.