Menurut Amran, perubahan tren konsumsi global dari susu sapi dan kambing menuju produk berbasis kelapa, menjadi peluang besar bagi Indonesia sebagai produsen kelapa terbesar dunia.
"Kemudian kelapa kita hilirisasi, ekspor kita Rp24 triliun. Ini pohon industri kelapa kita hilirisasi, ada pergeseran pangan di India dengan China, Eropa. Dari susu sapi, kambing bergeser ke coconut milk. Dia bergeser, kalau makan di warung kopi apa macam-macam campurnya adalah VCO. Ini, tahu harganya kelapa naik Rp5.000, Rp10.000. Negara tujuan Rp30.000 per biji," jelas Amran.
Baca Juga:
Prabowo: Hilirisasi Harus Berbasis Teknologi Terbaik, Utamakan Manfaat untuk Rakyat
"Kalau kita olah naik 100 kali lipat. Kalau Rp24 triliun dikali 100, itu Rp2.400 triliun. Belum termasuk air kelapa. Nah air kelapa dan coconut milk (santan) ini berdua Rp5.000 triliun. Ini baru air kelapa dengan isinya, belum tempurung dan seterusnya. Kita hilirisasi semua," sambungnya.
Amran kemudian menunjukkan contoh hilirisasi kelapa di Maluku Utara. Ia menyebut pemerintah telah membangun pabrik kelapa terpadu yang menghasilkan produk seperti air kelapa kemasan dan VCO. Dari sekitar 16,8 miliar butir kelapa, nilai ekonomi yang dihasilkan dari produk air kelapa dan VCO diperkirakan mencapai Rp896 triliun per tahun.
Selain itu, pemerintah menetapkan enam komoditas strategis sebagai prioritas hilirisasi. Tiga di antaranya ialah sawit dengan potensi nilai tambah Rp20.000 triliun, kelapa Rp10.000 triliun, serta gambir Rp5.000 triliun, sehingga total mencapai Rp35.000 triliun.
Baca Juga:
Prabowo: Hilirisasi Kunci Kebangkitan dan Kemakmuran Bangsa
Ia mengatakan, teknologi pengolahan seluruh komoditas tersebut sudah tersedia dan pemerintah mulai membangun sejumlah fasilitas hilirisasi di berbagai daerah.
“Teknologinya tersedia. Kami sudah bangun atas perintah Bapak Presiden," pungkasnya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]