"Problem kita di minyak, makanya kita cepat harus merubah dari fosil ke EBT. Contoh, katakanlah kita lagi mendorong program motor listrik, kita kurangi BBM, kemudian gas LPG juga kita dorong ke listrik," kata dia.
Bahlil menuturkan, dari sisi investasi, Indonesia juga masih cukup populer jadi destinasi investasi.
Baca Juga:
SPKLU PLN Tersedia Hingga Ujung Banyuwangi, Siap Layani Pengguna EV Selama Libur Idulfitri
Hal itu berdasarkan capaian pertumbuhan realisasi investasi asing sepanjang semester I 2022 yang mencapai 35,8 persen yoy.
Realisasi penanaman modal asing (PMA) pada periode Januari-Juni 2022 tercatat mencapai Rp 310,4 triliun, porsinya mencapai 53,1 persen dari total realisasi investasi di periode tersebut sebesar Rp 584,6 triliun.
"Kenapa investasi asing kita tetap percaya pada Indonesia? Fundamental ekonomi kita dianggap cukup bagus karena pertumbuhan kita sangat bagus, inflasi kita sekalipun ada kenaikan," beber Bahli.
Baca Juga:
Daftar Menteri yang Layak Direshuffle, Sutisna: Jangan Sampai Presiden Lamban
"Tapi kita jaga, dan rasio utang kita masih tetap dalam kondisi yang insya Allah baik sekalipun memang tambah terus. Tapi, aset kita di satu sisi nambah terus dan ini juga jaga stabilitas pertumbuhan, konsumsi dan daya beli kita," ungkapnya.
Faktor lain yang menunjang masih tingginya kepercayaan investor terhadap Indonesia, lanjut Bahlil, yakni karena sosok kepemimpinan Presiden Jokowi.
"Di kondisi seperti sekarang, hampir di seluruh dunia, pertarungannya adalah pertarungan leadership yang dilakukan para pemimpin dunia dalam mengelola negaranya," katanya.