Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent untuk pengiriman Juni juga terkoreksi sekitar 1,3 persen ke posisi 94,69 dollar AS per barel.
Ibrahim menilai arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga:
Tak Panik Selat Hormuz Ditutup, RI Buka Strategi Baru Pasokan Migas dari Afrika
Jika upaya gencatan senjata berhasil dan diperpanjang, distribusi energi global berpotensi kembali normal sehingga harga minyak cenderung mengalami penurunan.
Namun sebaliknya, kegagalan negosiasi berpotensi memicu kembali konflik terbuka yang akan mengganggu pasokan minyak dunia.
“Nah tetapi dalam jeda nanti dua minggu baik Amerika, Israel, Iran, mereka melakukan konsolidasi apabila gencatan senjata gagal atau tidak diperpanjang, sehingga akan terjadi perang terbuka kembali,” paparnya.
Baca Juga:
Tembus 140 Dollar AS di Tengah Krisis Pasokan, Dunia Berebut Minyak Siap Kirim
Risiko tersebut mencakup kemungkinan terganggunya jalur vital seperti Selat Hormuz yang dapat memicu lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi kebijakan bank sentral di berbagai negara.
Jika inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi, bank sentral global berpeluang mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuan.