Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent untuk pengiriman Juni juga terkoreksi sekitar 1,3 persen ke posisi 94,69 dollar AS per barel.
Ibrahim menilai arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga:
Gencatan Senjata AS-Iran Picu Harga Minyak Dunia Anjlok Hingga 17 Persen
Jika upaya gencatan senjata berhasil dan diperpanjang, distribusi energi global berpotensi kembali normal sehingga harga minyak cenderung mengalami penurunan.
Namun sebaliknya, kegagalan negosiasi berpotensi memicu kembali konflik terbuka yang akan mengganggu pasokan minyak dunia.
“Nah tetapi dalam jeda nanti dua minggu baik Amerika, Israel, Iran, mereka melakukan konsolidasi apabila gencatan senjata gagal atau tidak diperpanjang, sehingga akan terjadi perang terbuka kembali,” paparnya.
Baca Juga:
Rekayasa Teknik Terbesar Dunia, Arab Saudi Bangun Danau Raksasa di Tengah Gurun
Risiko tersebut mencakup kemungkinan terganggunya jalur vital seperti Selat Hormuz yang dapat memicu lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi kebijakan bank sentral di berbagai negara.
Jika inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi, bank sentral global berpeluang mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuan.