WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketidakpastian geopolitik kembali mengguncang pasar, dengan harga minyak dan emas global diprediksi bergerak liar pekan depan setelah mandeknya perundingan Amerika Serikat dan Iran.
Proyeksi ini mencerminkan meningkatnya risiko di pasar komoditas yang sangat sensitif terhadap dinamika konflik dan stabilitas pasokan energi.
Baca Juga:
Gencatan Senjata AS-Iran Picu Harga Minyak Dunia Anjlok Hingga 17 Persen
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai secara teknikal harga minyak memiliki rentang pergerakan yang cukup lebar antara level support dan resistance.
“Untuk oil sendiri, kemungkinan besar ditransaksikan dalam minggu depan itu di 78,7 dollar per barrel, itu support-nya,” ujar Ibrahim Assuaibi kepada wartawan.
Kemudian ia menambahkan bahwa batas atas pergerakan harga minyak berada di level yang cukup tinggi.
Baca Juga:
Rekayasa Teknik Terbesar Dunia, Arab Saudi Bangun Danau Raksasa di Tengah Gurun
“Kemudian resistance itu di 107,9 dollar AS per barrel,” lanjutnya, Minggu (13/4/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak dunia tercatat mengalami pelemahan dan kembali turun di bawah level psikologis 100 dollar AS per barel.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun sekitar 1,5 persen menjadi 96,37 dollar AS per barel setelah sempat menyentuh angka 100 dollar AS pada awal sesi perdagangan, Jumat (10/4/2026).
Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent untuk pengiriman Juni juga terkoreksi sekitar 1,3 persen ke posisi 94,69 dollar AS per barel.
Ibrahim menilai arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Jika upaya gencatan senjata berhasil dan diperpanjang, distribusi energi global berpotensi kembali normal sehingga harga minyak cenderung mengalami penurunan.
Namun sebaliknya, kegagalan negosiasi berpotensi memicu kembali konflik terbuka yang akan mengganggu pasokan minyak dunia.
“Nah tetapi dalam jeda nanti dua minggu baik Amerika, Israel, Iran, mereka melakukan konsolidasi apabila gencatan senjata gagal atau tidak diperpanjang, sehingga akan terjadi perang terbuka kembali,” paparnya.
Risiko tersebut mencakup kemungkinan terganggunya jalur vital seperti Selat Hormuz yang dapat memicu lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi kebijakan bank sentral di berbagai negara.
Jika inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi, bank sentral global berpeluang mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuan.
Di sisi lain, harga emas dunia juga diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang pekan depan mengikuti dinamika global.
Jika terjadi koreksi, harga emas diproyeksikan turun ke level support awal di 4.638 dollar AS per troy ounce dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.840.000 per gram.
Dalam skenario penurunan lanjutan, emas bahkan dapat melemah hingga 4.358 dollar AS per troy ounce dengan harga domestik berpotensi turun ke kisaran Rp 2.780.000 per gram.
Sebaliknya, jika terjadi penguatan, harga emas berpeluang naik ke level resistance di 4.897 dollar AS per troy ounce dengan harga logam mulia diperkirakan mencapai sekitar Rp 2.880.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan emas sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global serta eskalasi konflik geopolitik.
Jika tekanan inflasi mereda dan bank sentral seperti The Fed mulai menurunkan suku bunga, maka harga emas cenderung menguat.
Sebaliknya, peningkatan konflik menjadi perang terbuka justru akan mendorong lonjakan harga emas sebagai aset lindung nilai.
Selain itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan China terkait dugaan pengiriman persenjataan ke Iran turut memperbesar tekanan di pasar global.
Situasi geopolitik yang semakin kompleks berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan dan berpotensi bertahan di atas level Rp 17.000 per dollar AS.
Kondisi tersebut turut menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga logam mulia di pasar dalam negeri.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]