WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketidakpastian geopolitik kembali mengguncang pasar, dengan harga minyak dan emas global diprediksi bergerak liar pekan depan setelah mandeknya perundingan Amerika Serikat dan Iran.
Proyeksi ini mencerminkan meningkatnya risiko di pasar komoditas yang sangat sensitif terhadap dinamika konflik dan stabilitas pasokan energi.
Baca Juga:
Tak Panik Selat Hormuz Ditutup, RI Buka Strategi Baru Pasokan Migas dari Afrika
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai secara teknikal harga minyak memiliki rentang pergerakan yang cukup lebar antara level support dan resistance.
“Untuk oil sendiri, kemungkinan besar ditransaksikan dalam minggu depan itu di 78,7 dollar per barrel, itu support-nya,” ujar Ibrahim Assuaibi kepada wartawan.
Kemudian ia menambahkan bahwa batas atas pergerakan harga minyak berada di level yang cukup tinggi.
Baca Juga:
Tembus 140 Dollar AS di Tengah Krisis Pasokan, Dunia Berebut Minyak Siap Kirim
“Kemudian resistance itu di 107,9 dollar AS per barrel,” lanjutnya, Minggu (13/4/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak dunia tercatat mengalami pelemahan dan kembali turun di bawah level psikologis 100 dollar AS per barel.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun sekitar 1,5 persen menjadi 96,37 dollar AS per barel setelah sempat menyentuh angka 100 dollar AS pada awal sesi perdagangan, Jumat (10/4/2026).