Di sisi lain, harga emas dunia juga diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang pekan depan mengikuti dinamika global.
Jika terjadi koreksi, harga emas diproyeksikan turun ke level support awal di 4.638 dollar AS per troy ounce dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.840.000 per gram.
Baca Juga:
Tak Panik Selat Hormuz Ditutup, RI Buka Strategi Baru Pasokan Migas dari Afrika
Dalam skenario penurunan lanjutan, emas bahkan dapat melemah hingga 4.358 dollar AS per troy ounce dengan harga domestik berpotensi turun ke kisaran Rp 2.780.000 per gram.
Sebaliknya, jika terjadi penguatan, harga emas berpeluang naik ke level resistance di 4.897 dollar AS per troy ounce dengan harga logam mulia diperkirakan mencapai sekitar Rp 2.880.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan emas sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global serta eskalasi konflik geopolitik.
Baca Juga:
Tembus 140 Dollar AS di Tengah Krisis Pasokan, Dunia Berebut Minyak Siap Kirim
Jika tekanan inflasi mereda dan bank sentral seperti The Fed mulai menurunkan suku bunga, maka harga emas cenderung menguat.
Sebaliknya, peningkatan konflik menjadi perang terbuka justru akan mendorong lonjakan harga emas sebagai aset lindung nilai.
Selain itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan China terkait dugaan pengiriman persenjataan ke Iran turut memperbesar tekanan di pasar global.