Saya pernah melihat hal ini, dalam perjalanan dari Ibu Kota Portugis-Lisabon menuju Kota Porto (2020), kota kedua terbesar di Portugis .
Jadi atap rumah yang menggunakan seng bukan soal miskin atau kaya, tak ada urusan dengan status ekonomi. Jadi program gentengisasi boleh jadi justru tidak relevan dengan local wisdom suatu daerah, khususnya di luar Pulau Jawa.
Baca Juga:
Trump Tarik Amerika Serikat dari WHO, Pakar Nilai Risiko Kesehatan Dunia Meningkat
Kedua, paradoks dari sisi lingkungan. Pembuatan genteng dari tanah liat akan banyak menggerus penggunaan tanah, khususnya tanah liat (lempung).
Artinya, jika genteng diproduksi secara masal, akan banyak menimbulkan masalah dari sisi lingkungan, yakni timbulnya galian tipe C, baik untuk membuat genteng, atau juga batu bata merah.
Sebab ketika atap rumahnya diganti dengan genteng (yang semula seng) bisa jadi akan mengubah struktur rumah, karena genteng jauh lebih berat daripada seng. Minimal akan mengubah struktur kuda-kuda.
Baca Juga:
Konflik Myanmar Sebabkan Penyebaran Penyakit ke Thailand
Selain itu, program gentengisasi juga akan memicu "deforestasi", karena untuk membuat genteng perlu membakar genteng dan tentunya memerlukan kayu bakar.
Maka fenomena deforestasi dalam program gentengisasi tak bisa dihindarkan.
Ketiga, sejak era tahun 2000-an, sejatinya penggunaan genteng dari tanah liat sudah tidak begitu populer bagi masyarakat.