Masyarakat beralih pada genteng modern, seng, atau bahkan asbes. Genteng dari tanah liat dianggap kurang efisien, walau konon katanya "lebih adem".
Sedangkan genteng modern, seng, bahkan asbes dianggap lebih efisien dari sisi biaya, dan waktu pemasangan yang lebih cepat. Genteng tanah liat memerlukan konstruksi kuda-kuda yang lebih kokoh, dan rapat. Sehingga biayanya lebih mahal.
Baca Juga:
Trump Tarik Amerika Serikat dari WHO, Pakar Nilai Risiko Kesehatan Dunia Meningkat
Berpijak pada ketiga alasan itu, sebaiknya pemerintah mengkaji ulang terkait program gentengisasi. Malah akan lebih wisdom dan pro kesehatan, jika gentengisasi dimigrasikan pada rumah yang beratapkan asbes (asbestos).
Hingga saat ini masih banyak sekali rumah tangga di Indonesia yang rumahnya masih menggunakan atap asbes/asbestos.
Di level dunia, WHO tidak merekomendasikan penggunaan asbestos untuk atap rumah, karena bisa berdampak eksternalitas negatif pada penghuni rumah dan bahkan lingkungan.
Baca Juga:
Konflik Myanmar Sebabkan Penyebaran Penyakit ke Thailand
Bisa kita bayangkan jika dampak eksternalitas negatif asbestos itu bersenyawa dengan dampak eksternalitas negatif asap rokok, mengingat, perilaku merokok di rumah masih menjadi habit yang dominan bagi mayoritas perokok di Indonesia. Selain itu, janganlah program gentengisasi menjadi "obyek bancaan" dari oknum tertentu.
*) Penulis adalah Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI)
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.