WAHANANEWS.CO, Jakarta - Awal tahun 2026 dibuka dengan sinyal peringatan keras dari lantai bursa setelah Bursa Efek Indonesia mengumumkan puluhan emiten yang terancam angkat kaki dari perdagangan saham.
Sebanyak 70 perusahaan tercatat dinyatakan memiliki potensi pembatalan pencatatan saham atau delisting pada tahun 2026 akibat kondisi usaha yang dinilai bermasalah.
Baca Juga:
IHSG BEI Rabu Sore Ditutup Naik Ikuti Penguatan Bursa Asia dan Global
Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa potensi delisting dapat dilakukan apabila perusahaan mengalami peristiwa signifikan yang berdampak negatif terhadap kelangsungan usaha, baik dari sisi finansial maupun hukum, serta tidak mampu menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang memadai.
Selain itu, perusahaan tercatat juga berisiko didepak dari bursa apabila tidak lagi memenuhi persyaratan pencatatan dan atau mengalami suspensi perdagangan efek di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, maupun di seluruh pasar, paling singkat selama 24 bulan berturut-turut.
Ketentuan lainnya menyebutkan bahwa emiten yang sahamnya disuspensi selama enam bulan berturut-turut juga masuk dalam kategori berpotensi delisting dan wajib diumumkan kepada publik.
Baca Juga:
IHSG Anjlok 9,19 Persen Usai Libur Lebaran, Sentuh Level 5.912
“Per tanggal 30 Desember 2025, suspensi efek atas perusahaan tercatat berikut ini telah mencapai jangka waktu enam bulan atau lebih,” tulis BEI dalam Pengumuman BEI No. Peng-00003/BEI.PLP/12-2025 yang dikutip Kamis (1/1/2025).
Berdasarkan pengumuman tersebut, terdapat empat badan usaha milik negara yang masuk dalam daftar perusahaan berisiko delisting, yakni PT Indofarma (Persero) Tbk, PT PP Properti (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, serta PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Tak hanya BUMN, sejumlah perusahaan dari sektor swasta lintas industri juga masuk radar bursa, mulai dari sektor tekstil hingga energi.
Dari sektor tekstil, nama PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk dan PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex tercatat sebagai emiten yang berpotensi menghadapi penghapusan pencatatan saham.
Sementara dari sektor energi, PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk turut masuk dalam daftar perusahaan yang dinilai belum mampu keluar dari tekanan bisnis berkepanjangan.
Pengumuman ini menjadi sinyal tegas bagi pelaku pasar bahwa disiplin dan keberlanjutan usaha menjadi kunci utama agar perusahaan tetap bertahan di papan perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Berikut daftar 70 perusahaan tercatat yang berpotensi delisting oleh BEI pada 2026.
PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY)
PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI)
PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS)
PT Binakarya Jaya Abadi Tbk (BIKA)
PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS)
PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)
PT Cahaya Bintang Medan Tbk (CBMF)
PT Cowell Development Tbk (COWL)
PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI)
PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL)
PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK)
PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY)
PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA)
PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW)
PT Aksara Global Development Tbk (GAMA)
PT Golden Plantation Tbk (GOLL)
PT HK Metals Utama Tbk (HKMU)
PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME)
PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL)
PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP)
PT Indofarma Tbk (INAF)
PT Indo Pureco Pratama Tbk (IPPE)
PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY)
PT Darmi Bersaudara Tbk (KAYU)
PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI)
PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP)
PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS)
PT Lionmesh Prima Tbk (LMSH)
PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA)
PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP)
PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI)
PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT)
PT Mitra Pemuda Tbk (MTRA)
PT Metro Realty Tbk (MTSM)
PT Asia Pacific Investama Tbk (MYTX)
PT Sinergi Megah Internusa Tbk (NUSA)
PT Polaris Investama Tbk (PLAS)
PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN)
PT Pollux Properties Indonesia Tbk (POLL)
PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL)
PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA)
PT PP Properti Tbk (PPRO)
PT Master Print Tbk (PTMR)
PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE)
PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO)
PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK)
PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT)
PT Siwani Makmur Tbk (SIMA)
PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk (SKYB)
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB)
PT SMR Utama Tbk (SMRU)
PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL)
PT Sugih Energy Tbk (SUGI)
PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR)
PT Tianrong Chemicals Industry Tbk (TDPM)
PT Indosterling Technomedia Tbk (TECH)
PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE)
PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA)
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK)
PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS)
PT Sunindo Adipersada Tbk (TOYS)
PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM)
PT Triwira Insanlestari Tbk (TRIL)
PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO)
PT Nusantara Inti Corpora Tbk (UNIT)
PT Wicaksana Overseas International Tbk (WICO)
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP)
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT)
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]