Menurutnya, konektivitas udara yang baik dapat mempercepat pergerakan masyarakat, investasi, perdagangan, pariwisata, dan distribusi layanan publik antardaerah.
“Jaringan penerbangan harus dirancang terhubung dengan kereta api, pelabuhan, jalan tol, dan transportasi perkotaan agar perjalanan penumpang menjadi lebih cepat dan efisien,” ujar Tohom.
Baca Juga:
Indonesia Usung Waste-to-Energy di Forum ASEAN, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jangan Berhenti pada Seremonial
Ia juga mendorong Garuda Group memperbaiki seluruh rangkaian pelayanan penumpang mulai dari pembelian tiket, layanan di bandara, pengalaman di dalam pesawat, penanganan bagasi, hingga pelayanan setelah penerbangan.
Integrasi sistem penjualan tiket antara Garuda Indonesia dan Pelita Air dinilai dapat mempermudah masyarakat dalam memilih rute lanjutan serta mengurangi kendala saat melakukan perpindahan penerbangan.
Penguatan kualitas lounge, katering, pelayanan awak kabin, program loyalitas, serta pengembangan sumber daya manusia juga harus menjadi bagian penting dari transformasi.
Baca Juga:
OASA dan SUS Environment Kembangkan PSEL Lampung Raya, MARTABAT Prabowo-Gibran: Transformasi Sampah Jadi Energi Perlu Dipercepat
Tohom mengatakan pemerintah perlu menjaga agar konsolidasi tersebut tidak mengurangi pilihan masyarakat atau menciptakan harga tiket yang semakin sulit dijangkau.
“Pemerintah harus memastikan efisiensi perusahaan berjalan seiring dengan perlindungan konsumen karena maskapai BUMN memiliki tanggung jawab bisnis sekaligus tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap konsolidasi Garuda Indonesia dan Pelita Air menjadi momentum untuk membangun industri penerbangan nasional yang sehat, mandiri, dan mampu bersaing di kawasan regional.