MARTABAT Prabowo-Gibran berharap hasil Sidang Debottlenecking tidak berhenti pada penyelesaian kasus per kasus, tetapi berkembang menjadi bahan evaluasi terhadap regulasi yang berpotensi menghambat industri nasional.
Tohom menilai Kanal Debottlenecking dapat menjadi instrumen penting untuk mendeteksi lebih dini persoalan investasi sebelum hambatan tersebut berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Ucapkan Turut Berduka atas Meninggalnya Anggota DPR RI Bakri Dapil Jambi
"Model seperti ini bagus karena pemerintah bisa mendengar masalah langsung dari lapangan, lalu mempertemukan kementerian dan lembaga terkait untuk mencari jalan keluarnya," katanya.
Hingga pertengahan Juli 2026, pemerintah mencatat sebanyak 167 aduan telah diselesaikan melalui Kanal Debottlenecking lewat Sidang Aduan maupun rapat koordinasi pada tingkat Eselon I dan II.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap langkah tersebut terus diarahkan untuk menciptakan iklim investasi yang sehat sekaligus memberikan kepastian bagi industri yang telah menanamkan modal dan membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Baca Juga:
Prabowo Siapkan Transformasi Industri Perkapalan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kemandirian Maritim Tak Bisa Ditunda
"Indonesia membutuhkan investasi, tetapi kita juga membutuhkan industri nasional yang semakin kuat, sehingga keduanya harus berjalan bersama untuk menciptakan lapangan kerja, memperbesar nilai tambah, dan memperkuat kemandirian ekonomi bangsa," pungkas Tohom.
[Redaktur: Sandy]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.