Selain itu, juga harus melihat competitive advantage lain yang bisa dioptimalkan Indonesia, semisal dari sektor pembiayaan, iklim tenaga kerja, sampai ketersediaan dan kedalaman struktur bahan baku.
“Indonesia sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan EU-CEPA sehingga diharapkan pasar akan lebih terbuka. Dalam IPEF juga pada pilar pertamanya membahas fasilitasi perdagangan. Pemerintah berharap hambatan di negara-negara itu bisa dikurangi,” ungkap Menko Airlangga.
Baca Juga:
Indonesia Perkuat Kerja Sama Energi Bersih dan Industri Kendaraan Listrik dengan Korea Selatan
Seiring dengan melesunya perekonomian di Tiongkok, sebagai mitra dagang utama Indonesia, Menko Airlangga menjelaskan bahwa saat ini Indonesia sedang mempersiapkan langkah-langkah mengamankan rantai pasok.
Pasalnya, ketika awal pandemi Covid-19 dua tahun lalu, rantai pasok global yang sangat bergantung pada Tiongkok langsung terpukul hebat, dan ini juga mengakibatkan kenaikan harga komoditas yang sangat tinggi.
“Yang paling penting adalah critical mineral, termasuk untuk memproduksi baterai berbasis nikel. Ke depan, (critical mineral) tidak hanya untuk mobilitas, tapi juga untuk energi terbarukan yang nantinya akan mengandalkan pada ketersediaan baterai, dan itu akan jadi kekuatan utama Indonesia,” jelas Menko Airlangga. Demikian dilansir dari laman ekongoid, Selasa (11/7). [jp/jup]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.