WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemulihan infrastruktur dasar menjadi fokus utama pemerintah dalam proses rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya menegaskan, ketersediaan listrik menjadi fondasi terpenting dalam menggerakkan kembali kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.
Baca Juga:
Penguatan Statistik Kelistrikan Nasional Digenjot, ALPERKLINAS: Ini Momentum Reformasi Berbasis Data
Bima memastikan, jaringan listrik di kawasan bencana kini hampir sepenuhnya pulih.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi penanda krusial bahwa fase pemulihan telah berjalan signifikan dan memberikan ruang bagi sektor lain untuk kembali bergerak.
“Oh tentu, gini. Yang penting kan adalah listrik, air. Kalau listrik ini sudah 98–99 persen sudah tersambung,” ujar Bima di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Baca Juga:
PLN Tegaskan Tak Ada Krisis Batu Bara, 8 Pemasok Siapkan 87 Juta Ton
Hampir tuntasnya pemulihan listrik tidak terlepas dari kerja cepat dan terkoordinasi PT PLN (Persero) dalam memperbaiki jaringan yang rusak akibat bencana.
Sebagai penyedia listrik nasional, PLN menjadi garda terdepan dalam memastikan pasokan energi kembali mengalir hingga ke titik-titik terdampak, termasuk wilayah yang sempat terisolasi.
Pemulihan kelistrikan dinilai menjadi prasyarat bagi berfungsinya layanan publik lainnya, mulai dari distribusi air bersih, layanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi warga.
Dengan listrik yang kembali menyala, pemerintah daerah dapat mengaktifkan kembali sistem PDAM serta menjalankan berbagai langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Meski demikian, Bima mengakui bahwa persoalan air bersih masih menjadi tantangan di beberapa lokasi bencana.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait saat ini terus mengupayakan pemulihan jaringan PDAM serta penyediaan sumber air alternatif.
“Air masih menjadi persoalan di beberapa daerah, tapi PDAM ini mulai pulih. Beberapa daerah melakukan upaya untuk menggali sumur. Jadi sumur bor digali untuk menambah ketersediaan air,” katanya.
Selain pemulihan infrastruktur vital, pemerintah juga mendorong percepatan relokasi penyintas bencana.
Warga yang masih berada di tenda pengungsian secara bertahap dipindahkan ke Hunian Sementara (Huntara) sebagai bagian dari masa transisi menuju Hunian Tetap (Huntap).
Dengan dukungan infrastruktur kelistrikan yang telah hampir sepenuhnya pulih berkat peran PLN, pemerintah optimistis proses pembangunan Huntap dapat dipercepat.
Targetnya, masyarakat dapat segera kembali menjalani kehidupan yang lebih normal dengan fasilitas yang layak dan permanen.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]