WahanaNews.co, Seoul - Produk fesyen usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia mendapat respons positif dari pasar Korea Selatan. Hingga akhir Mei 2026, partisipasi Indonesia dalam ajang ASEAN Panorama 2026 mencatatkan potensi transaksi sebesar 1,95 juta dollar AS atau sekitar Rp 33,15 miliar.
Pameran yang berlangsung selama lima bulan, mulai Mei hingga September 2026, digelar di Seoul ASEAN Hall, Korea Press Centre, Seoul, Korea Selatan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperluas akses pasar bagi produk-produk unggulan Indonesia di kawasan Asia Timur.
Baca Juga:
Pemkot Yogyakarta Fasilitasi Sembilan UMKM Ikuti Pameran Nasional Indonesia City Expo di Medan
Atase Perdagangan RI di Seoul, Roesfitawati, mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa peluang pasar Korea Selatan bagi produk Indonesia, khususnya produk UKM, masih terbuka lebar.
Menurut dia, tingginya minat konsumen Korea Selatan terhadap produk fesyen Indonesia didorong oleh kualitas produk, desain yang unik, serta nilai budaya yang melekat pada setiap karya.
"Melalui kolaborasi dengan ASEAN-Korea Centre (AKC), kami terus menjembatani pelaku UKM Indonesia dengan importir dan buyer potensial melalui berbagai kegiatan promosi dan business matching. Ke depan, kami akan terus memperluas akses pasar agar semakin banyak UKM Indonesia mampu menembus pasar Korea Selatan," ujar Roesfitawati.
Baca Juga:
Dari Lereng Gunung Salatiga, Argotelo Bawa Olahan Singkong Tembus Pasar Dunia
ASEAN Panorama merupakan program promosi perdagangan tahunan yang diselenggarakan oleh ASEAN-Korea Centre (AKC). Selain pameran produk, kegiatan ini juga mencakup business matching, seminar ekspor, hingga kunjungan ke berbagai perusahaan dan pusat bisnis di Korea Selatan guna mempertemukan pelaku usaha ASEAN dengan calon mitra dagang.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, Indonesia bersama Brunei Darussalam mendapat kesempatan menjadi negara pembuka pameran pada Mei.
Dalam ajang tersebut, Indonesia menghadirkan 10 pelaku UKM yang telah lolos proses kurasi Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan. Mereka adalah PT Alfazza Kayo Hanania, Bali Glams, CV Gammara Jaya Mondial, PT Haidee Orlin Indonesia, IKIDS, PT Porto Indonesia Sejahtera, CV Rumah Jeddiah, Shiroshima Indonesia, Tirta Arta Persada, dan Zante.
Beragam produk fesyen dan gaya hidup ditampilkan, mulai dari pakaian, tas, alas kaki, hingga aksesori yang mengangkat kreativitas sekaligus kekayaan budaya Indonesia.
Selain mengikuti pameran, para pelaku UKM juga mengikuti seminar mengenai pembiayaan dan strategi pengembangan pasar Korea Selatan, business matching dengan sejumlah importir seperti Jeongjin B2B, K-Networks, dan Musinsa, serta kunjungan ke Natural Week 2026 dan Samsung C&T Fashion Group.
Rangkaian kegiatan tersebut memberikan wawasan mengenai tren pasar, preferensi konsumen, hingga berbagai persyaratan yang perlu dipenuhi untuk memasuki pasar Korea Selatan.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, menilai ASEAN Panorama 2026 menjadi wujud nyata penguatan kemitraan ekonomi antara ASEAN dan Korea Selatan.
Menurut Cecep, ajang tersebut berperan sebagai katalisator peningkatan kerja sama ekonomi melalui pameran produk, business matching, serta seminar akses pasar yang mempertemukan pelaku usaha ASEAN dengan buyer dan jaringan distribusi di Korea Selatan.
Ia menambahkan, penyelenggaraan ASEAN Panorama 2026 juga sejalan dengan upaya memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan, terutama setelah kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada Maret 2026 yang semakin memperkokoh kemitraan strategis komprehensif kedua negara.
"ASEAN Panorama 2026 tidak hanya membuka peluang akses pasar bagi produk Indonesia, tetapi juga memperkuat soft power Indonesia di Korea Selatan. Selain itu, ajang ini turut mempererat solidaritas ASEAN dengan menghadirkan seluruh negara anggota dalam satu platform promosi bersama," kata Cecep.
Pendiri IKIDS, Melati Nurani Nayu, mengaku keikutsertaan dalam ASEAN Panorama 2026 memberikan banyak manfaat bagi pengembangan usahanya. Selain membuka peluang ekspor ke Korea Selatan, kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai tren pasar dan preferensi konsumen.
"Kami juga dapat memperluas jejaring dengan distributor serta memperoleh wawasan mengenai perkembangan industri fesyen Korea Selatan melalui kunjungan ke Samsung C&T Fashion Group," ujarnya.
Di sisi lain, Marketing Manager Musinsa, Nara Kim, menilai produk fesyen Indonesia memiliki karakter yang kuat karena mengangkat unsur kriya dan budaya lokal. Menurutnya, nilai tambah tersebut semakin diperkuat dengan konsep handmade, produksi terbatas, serta cerita yang melekat pada setiap produk.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya pemenuhan standar keamanan produk dan penggunaan bahan baku yang berkelanjutan agar produk Indonesia semakin kompetitif dan mampu memperluas pangsa pasar di Korea Selatan.
[Redaktur: Jupriadi]