Menurutnya, konsep aglomerasi harus masuk dalam perencanaan agar manfaat proyek tidak terkonsentrasi di dalam pagar kawasan industri.
Pemerintah daerah juga perlu dilibatkan untuk mempersiapkan konektivitas, tenaga kerja lokal, tata ruang, pelayanan publik, serta kebutuhan sosial akibat pertumbuhan kawasan.
Baca Juga:
Investasi KEK Tembus Rp32 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kepercayaan Investor Harus Berbuah Lapangan Kerja
Tohom menilai keberadaan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di lokasi yang sama dengan BACBIE juga memberikan keuntungan dari sisi kedekatan terhadap infrastruktur energi dan sumber batu bara.
Namun, integrasi tersebut tetap harus mempertimbangkan efisiensi, aspek lingkungan, keselamatan industri, serta perkembangan kebijakan energi nasional.
“Indonesia harus membuktikan bahwa hilirisasi batu bara bukan hanya soal mengubah bentuk komoditas, tetapi mengubah sumber daya alam menjadi fondasi industrialisasi,” katanya.
Baca Juga:
Investasi Rp5,7 Triliun di KEK Industropolis Siap Serap Tenaga Kerja, MARTABAT Prabowo-Gibran: Batang Bisa Jadi Etalase Hilirisasi
Ia berharap pengajuan BACBIE menjadi KEK dapat segera memperoleh kepastian setelah seluruh persyaratan dan kajian dinyatakan memenuhi ketentuan.
MARTABAT Prabowo-Gibran juga berharap proyek DME dapat menjadi salah satu contoh bagaimana agenda hilirisasi pemerintahan Prabowo-Gibran diterjemahkan menjadi investasi nyata di daerah.
“Keberhasilan hilirisasi nanti harus terlihat dari bertambahnya industri, berkurangnya ketergantungan impor, meningkatnya kemampuan teknologi nasional, dan semakin besarnya manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” pungkas Tohom.