Dampaknya terhadap rupiah diperkirakan akan signifikan, mulai dari arus modal asing yang keluar dari Indonesia hingga meningkatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan nasional.
Indonesia kini menjadi target kebijakan tarif resiprokal AS dengan besaran hingga 32%, yang diberlakukan sebagai respons atas defisit perdagangan yang dialami Negeri Paman Sam terhadap Indonesia.
Baca Juga:
Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Pelaku Usaha Teriak Beban Kian Berat
Kenaikan tarif ini berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar AS. Dengan harga barang impor dari Indonesia menjadi lebih mahal, konsumen AS diperkirakan akan lebih memilih produk dalam negeri.
Jika kondisi ini berlanjut, pasokan dolar AS di Indonesia dapat berkurang, menyebabkan tekanan lebih lanjut terhadap nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia Pastikan Stabilitas Rupiah
Baca Juga:
Rupiah Bisa Jatuh ke Rp20.400 Jika Tekanan Global Terus Memburuk
Bank Indonesia (BI) menanggapi kebijakan tarif baru dari pemerintahan Donald Trump dengan memastikan langkah-langkah stabilisasi rupiah.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik, terutama setelah pengumuman kebijakan tarif pada 2 April 2025 dan respons China yang menerapkan tarif balasan pada 4 April 2025.
Pasar global mengalami volatilitas signifikan, ditandai dengan melemahnya indeks saham global serta penurunan yield US Treasury ke level terendah sejak Oktober 2024.