WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ambisi menghimpun dividen Rp150 triliun per tahun kini dipasang Danantara, namun kalkulasi terbaru menunjukkan masih ada celah puluhan triliun rupiah yang harus dikejar.
PI Daya Anagata Nusantara (Danantara) menetapkan target dividen dari perusahaan pelat merah sebesar Rp150 triliun setiap tahun sebagai bagian dari transformasi BUMN menjadi instrumen investasi produktif melalui skema Sovereign Wealth Fund domestik.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Apel Siaga Kamtibmas Ramadhan 1447 H, Pastikan Keamanan dan Stabilitas Harga Bahan Pokok
Target jumbo tersebut sangat bergantung pada kontribusi BUMN-BUMN raksasa, terutama dari sektor perbankan dan energi yang diproyeksikan menjadi tulang punggung setoran dividen.
Dengan skenario di mana Pertamina menetapkan Dividend Payout Ratio (DPR) 20 persen atas laba 2024 sekitar Rp49,54 triliun sehingga menghasilkan dividen Rp9,91 triliun, serta PT Pelindo (Persero) menetapkan DPR 30 persen atas laba 2024 sebesar Rp3,58 triliun sehingga menghasilkan dividen Rp1,07 triliun, perhitungan dilakukan menggunakan pendekatan rata-rata pasar pada industri terkait.
Berdasarkan laba tahun buku 2024, berikut total estimasi setoran dividen 10 BUMN teratas.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Perkuat Fondasi Lingkungan dan Stabilitas Nasional
PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) - Rp27,52 triliun.
PT Bank Mandiri (BMRI) - Rp22,62 triliun.
MIND ID (Holding Tambang) - Rp20,10 triliun.
PT Telkom Indonesia (TLKM) - Rp10,96 triliun.
PT Pertamina (Persero) - Rp9,91 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (BBNI) - Rp8,37 triliun.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) - Rp3,35 triliun.
PT Pupuk Indonesia (PIHC) - Rp2,95 triliun.
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) - Rp1,07 triliun.
PT Bank Syariah Indonesia (BRIS) - Rp0,85 triliun.
Total dividen dari 10 perusahaan tersebut mencapai Rp107,70 triliun sehingga masih menyisakan kekurangan Rp42,30 triliun untuk mencapai target Rp150 triliun.
Kalkulasi skenario prudent ini menegaskan adanya gap signifikan antara target dan potensi realisasi berdasarkan kontribusi 10 besar BUMN.
Fakta pertama yang muncul adalah adanya kekurangan Rp42,30 triliun yang harus ditutup agar target tahunan tercapai.
Fakta kedua menimbulkan pertanyaan apakah ratusan BUMN dan anak usaha di luar 10 besar mampu menutup kekurangan tersebut berdasarkan data historis.
Jawabannya dinilai sangat tidak mungkin karena struktur profitabilitas BUMN sangat terkonsentrasi.
Data di lapangan yang juga diakui manajemen Danantara menunjukkan lebih dari 90 persen total dividen BUMN hanya berasal dari 10 perusahaan elite tersebut.
Sementara itu, sekitar 1.000 lebih entitas BUMN lainnya mayoritas menjalankan Public Service Obligation (PSO), memiliki skala bisnis kecil, atau bahkan mengalami kerugian kronis.
Secara kolektif, kontribusi dividen dari BUMN di luar 10 besar diperkirakan hanya berada di kisaran Rp1 hingga Rp4 triliun sehingga tidak signifikan untuk menutup kekurangan Rp42,30 triliun.
Dengan kondisi tersebut, untuk mencapai target Rp150 triliun secara berkelanjutan, Danantara tidak dapat mengandalkan BUMN di luar kelompok utama dan harus mendorong peningkatan profitabilitas portofolio inti yang ada.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]