WahanaNews.co, Suzhou - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong penguatan kerja sama perdagangan, transformasi digital, dan transisi hijau guna menjaga stabilitas ekonomi kawasan Asia-Pasifik di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan ke-32 Menteri Perdagangan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau APEC Ministers Responsible for Trade (APEC MRT) 2026 yang berlangsung di Suzhou, Tiongkok, pada 22–23 Mei 2026.
Baca Juga:
Kapolda Jambi Pimpin Apel Kebangsaan Sabuk Kamtibmas, Perkuat Sinergi Ciptakan Kota Jambi Aman dan Kondusif
Dalam forum tersebut, Wamendag Roro menegaskan komitmen Indonesia terhadap sistem perdagangan multilateral dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai pilar utama perdagangan global.
Indonesia juga menekankan pentingnya reformasi WTO yang tetap mengedepankan pendekatan berbasis anggota dan konsensus, serta mempertahankan prinsip perlakuan khusus dan berbeda atau special and differential treatment (S&DT) bagi negara berkembang.
“Indonesia memandang reformasi WTO perlu menjaga pendekatan berbasis anggota dan konsensus, serta tetap memberikan ruang bagi kepentingan dan kebutuhan pembangunan negara berkembang,” ujar Roro dalam keterangannya, Sabtu (23/5).
Baca Juga:
Misi Dagang RI di Shanghai Bukukan Potensi Transaksi Rp1,55 Triliun
Selain itu, Indonesia menilai pemulihan sistem penyelesaian sengketa WTO yang efektif dan kredibel menjadi langkah penting untuk menjaga kepastian serta kepercayaan terhadap aturan perdagangan internasional.
Mayoritas ekonomi anggota APEC juga menegaskan WTO tetap menjadi pilar utama sistem perdagangan global, meski terdapat pandangan mengenai perlunya peningkatan efektivitas organisasi tersebut dalam menghadapi tantangan perdagangan saat ini.
Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao yang bertindak sebagai Ketua Pertemuan ke-32 APEC MRT menilai APEC memiliki peran strategis dalam memperkuat kolaborasi antarekonomi menghadapi transformasi global.
“Kami sangat mementingkan prinsip keterbukaan, inovasi, dan kerja sama, serta menyerukan penguatan kolaborasi regional untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global,” kata Wang.
Dalam pertemuan itu, ekonomi anggota APEC juga menyepakati pentingnya pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk mendukung perdagangan dan rantai pasok, termasuk melalui penguatan keamanan, pengembangan kapasitas, serta pertukaran pengalaman antarekonomi.
Indonesia menilai transformasi digital dan transisi hijau dapat menjadi peluang baru untuk meningkatkan perdagangan dan investasi kawasan.
Menurut Roro, teknologi digital termasuk AI akan semakin berperan dalam meningkatkan efisiensi perdagangan lintas batas dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital.
“Transformasi digital dan transisi hijau perlu didukung melalui kerja sama yang inklusif dan berorientasi pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas, termasuk oleh negara berkembang dan UMKM,” ujarnya.
Indonesia juga terus mendorong pengembangan ekonomi hijau melalui penguatan hilirisasi industri, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, serta dukungan terhadap perdagangan barang dan jasa ramah lingkungan.
Di akhir pertemuan, para Menteri Perdagangan APEC menyepakati 2026 APEC MRT Joint Statement atau Suzhou Statement yang menegaskan komitmen implementasi Putrajaya Vision 2040 dan penguatan sistem perdagangan global yang terbuka, berbasis aturan, serta saling terhubung.
Kesepakatan tersebut juga mencakup penguatan agenda Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP), kerja sama perdagangan digital, perluasan partisipasi UMKM dalam ekonomi digital, hingga penguatan kerja sama lingkungan termasuk penanganan penangkapan ikan ilegal dan pembalakan liar di kawasan Asia-Pasifik.
[Redaktur: Jupriadi]