WAHANANEWS.CO - Tragedi menimpa penambang liar di tenggara Republik Demokratik Kongo ketika sebuah jembatan runtuh akibat kepadatan orang di atasnya, menewaskan sedikitnya 32 orang pada Sabtu (15/11/2025).
Menteri Dalam Negeri Roy Kaumba Mayonde menjelaskan bahwa jembatan di lokasi tambang Kalando di Mulondo, provinsi Lualaba, ambruk karena para penambang tetap memaksa masuk meskipun hujan deras dan risiko tanah longsor tinggi pada Sabtu (15/11/2025).
Baca Juga:
Ribuan Orang Tewas, Demo Iran Disebut Lebih Brutal dari 1979
“Meskipun akses ke lokasi tambang sangat dibatasi karena curah hujan tinggi dan risiko tanah longsor, para penambang liar tetap memaksa masuk,” ujar Mayonde pada Sabtu (15/11/2025).
Sebuah laporan dari Dinas Pendukung dan Pembinaan Pertambangan Skala Kecil dan Artisanal Republik Demokratik Kongo (Saemape) menyebutkan bahwa tentara menembakan ke arah lokasi tambang yang memicu kepanikan di kalangan penambang pada Sabtu (15/11/2025).
Para penambang yang panik bergegas ke jembatan hingga berdesakan, bertumpuk satu sama lain, sehingga banyak yang berjatuhan dan menimbulkan korban tewas serta cedera pada Sabtu (15/11/2025).
Baca Juga:
Paus Leo XIV Kecam Diplomasi Berbasis Kekuatan, Serukan Kembalinya Dialog Perdamaian Global
Mayonde menyatakan korban tewas mencapai 32 orang, sementara laporan Saemape menyebut sedikitnya 40 orang meninggal dunia dalam insiden tersebut pada Sabtu (15/11/2025).
Tambang Kalando telah lama menjadi sumber konflik antara penambang liar, koperasi lokal yang mengatur operasi, dan operator resmi, dengan DRC sebagai produsen kobalt terbesar dunia di mana perusahaan China menguasai 80% produksinya pada Senin (17/11/2025).
Isu pekerja anak, kondisi kerja yang tidak aman, dan korupsi terus membayangi industri pertambangan DRC, sementara wilayah timur yang kaya mineral kerap dilanda kekerasan oleh pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata termasuk M23 yang didukung Rwanda pada Senin (17/11/2025).