WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan Timur Tengah kian melebar, langkah Prancis mengirim puluhan kendaraan lapis baja ke Lebanon menandai eskalasi dukungan militer di tengah situasi kawasan yang belum stabil.
Pemerintah Prancis dilaporkan telah mengirimkan 39 kendaraan lapis baja ke Lebanon pada pekan lalu sebagai bagian dari dukungan terhadap negara tersebut.
Baca Juga:
Gak Peduli Gencatan Senjata, Israel Akan Terus Gempur Hizbullah Tanpa Henti
"Kata Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin, saya konfirmasi... kami telah mengirimkan 39 kendaraan lapis baja."
Pengiriman ini merupakan bagian dari komitmen Paris untuk memperkuat stabilitas Lebanon, termasuk melalui dukungan terhadap angkatan bersenjata setempat.
Selain bantuan peralatan militer, Prancis juga aktif memberikan pelatihan kepada militer Lebanon guna meningkatkan kapasitas pertahanan negara tersebut.
Baca Juga:
PBB Sebut Tank Israel dan IED Jadi Pemicu Kematian Prajurit TNI di Lebanon
"Sebelumnya dinyatakan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, Prancis akan terus memberikan bantuan kemanusiaan ke Lebanon dan mendukung angkatan bersenjata negara tersebut."
Di tengah dinamika tersebut, perkembangan lain datang dari upaya meredakan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
"Pada Selasa (7/4/2025) malam, dikatakan oleh Donald Trump, ia telah menyetujui gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran."
Kesepakatan itu juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran, yang sebelumnya sempat terdampak ketegangan militer di kawasan.
Namun di lapangan, situasi masih memanas dengan aksi militer yang terus berlangsung di wilayah Lebanon selatan.
Pada Rabu (8/4/2025), pesawat tempur dan artileri Israel dilaporkan menyerang puluhan permukiman di Lebanon selatan, termasuk di kota besar Tyre.
"Disampaikan oleh Trump, penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian dengan Iran karena kelompok Hizbullah."
Pernyataan tersebut memicu respons dari Iran yang menilai serangan Israel tetap merupakan pelanggaran terhadap semangat gencatan senjata yang telah disepakati bersama Amerika Serikat.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]