WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang protes raksasa mengguncang Amerika Serikat saat jutaan warga turun ke jalan menentang kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin kontroversial.
Aksi bertajuk No Kings tersebut berlangsung pada Sabtu (28/3/2026) dan disebut sebagai salah satu demonstrasi satu hari terbesar dalam sejarah negeri tersebut.
Baca Juga:
Polda NTT Kerahkan Kekuatan Penuh untuk Amankan Ibadah Paskah
Dari berbagai kota besar di Amerika Serikat, massa menyuarakan penolakan terhadap arah kebijakan Trump yang dianggap mengarah pada pendekatan otoriter, terutama terkait ambisinya terhadap sumber daya minyak Iran.
Menanggapi gelombang protes itu, Trump justru melontarkan pernyataan keras yang memicu kontroversi baru di tengah situasi politik yang memanas.
"Jujur saja, keinginan terbesar saya adalah mengambil minyak di Iran," ujarnya dalam wawancara dengan Financial Times, Senin (30/3/2026).
Baca Juga:
IKIP 2026 Ditiadakan, KI Tegaskan Transparansi Tak Boleh Surut
Pernyataan tersebut mempertegas sikap Trump yang secara terbuka mengakui ambisinya terhadap sumber energi di kawasan Timur Tengah.
"Tapi ada saja orang-orang bodoh di AS yang bertanya kenapa saya melakukan itu," lanjutnya.
Ucapan itu memicu reaksi keras karena dinilai merendahkan para demonstran yang menyuarakan penolakan terhadap kebijakannya.
"Mereka benar-benar bodoh," cetusnya.
Situasi politik domestik Amerika Serikat pun semakin memanas seiring meningkatnya ketegangan antara pemerintah dan masyarakat sipil.
Selain pernyataan kontroversial, Trump juga mengungkap kemungkinan langkah strategis yang lebih jauh dengan mempertimbangkan penguasaan Pulau Kharg di Iran.
Pulau tersebut dikenal sebagai pusat utama ekspor minyak mentah Iran yang memiliki nilai strategis tinggi dalam peta energi global.
"Mungkin kita akan merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak, kita punya banyak pilihan," kata Trump.
Pernyataan itu memperkuat spekulasi bahwa rencana tersebut bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang tengah dipertimbangkan secara serius.
"Itu juga berarti kita harus berada di sana untuk sementara waktu, saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan yang kuat, kita bisa merebutnya dengan sangat mudah," tambahnya.
Di lapangan, Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan ribuan personel militer ke kawasan Timur Tengah, termasuk pasukan Marinir dan Divisi Lintas Udara ke-82.
Kapal perang USS Tripoli juga disebut telah tiba dengan membawa tambahan kekuatan militer guna memperkuat posisi AS di kawasan tersebut.
Di sisi lain, aksi protes No Kings terus meluas dengan partisipasi jutaan warga yang menilai kebijakan Trump telah menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang keliru dalam sejarah.
Para demonstran menyebut langkah invasi terhadap Iran demi minyak sebagai tindakan yang berbahaya dan tidak mencerminkan nilai demokrasi.
Aksi ini tidak hanya digerakkan oleh mahasiswa dan aktivis, tetapi juga melibatkan selebritas serta tokoh publik yang ikut menyuarakan kekhawatiran terhadap tren otoritarianisme.
Meski Gedung Putih berupaya mengecilkan arti aksi tersebut, para pengamat menilai skala demonstrasi yang mencapai lebih dari 3.000 titik di seluruh Amerika Serikat menjadi sinyal kuat ketidakpuasan publik.
Gerakan No Kings kini dianggap sebagai indikator nyata meningkatnya kemarahan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintahan Trump.
Sementara itu, sumber-sumber keamanan menyebut bahwa Pentagon telah menyiapkan skenario detail terkait kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran.
Komando Pusat AS juga mengonfirmasi bahwa sekitar 3.500 personel tambahan telah tiba di Timur Tengah sebagai bagian dari penguatan militer.
Di pihak Iran, respons keras juga disampaikan oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang memperingatkan potensi eskalasi konflik.
"Pasukan kami sedang menunggu tentara Amerika dan akan menghujani tembakan jika mereka mencoba memasuki wilayah Iran," tegasnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang berpotensi memicu konflik terbuka di kawasan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]