WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan keinginannya untuk mengambil alih Greenland, baik melalui pembelian resmi maupun cara lain di luar mekanisme diplomatik konvensional.
Sikap ini mengingatkan pada sejarah panjang ekspansi wilayah Amerika Serikat yang kerap dilakukan dengan membeli atau merebut teritori dari negara lain.
Baca Juga:
Inggris Murka Usai Trump Remehkan Peran NATO di Afghanistan
Greenland saat ini berstatus sebagai wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark.
Pemerintah Denmark secara tegas menyatakan bahwa tindakan agresi militer AS terhadap Greenland berpotensi mengakhiri keberlangsungan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mengingat Denmark dan Amerika Serikat sama-sama merupakan anggota aliansi tersebut.
Apabila ambisi Trump untuk mencaplok Greenland terealisasi, maka wilayah kekuasaan Amerika Serikat akan semakin meluas.
Baca Juga:
Greenland Jadi Sorotan Dunia, Putin Tuduh Denmark Bertindak Kolonial
Langkah tersebut juga akan menambah daftar wilayah yang sebelumnya diperoleh AS melalui proses pembelian maupun perebutan dari negara lain.
Sepanjang sejarahnya, setidaknya terdapat tujuh wilayah besar yang menjadi bagian dari Amerika Serikat melalui cara-cara tersebut.
Alaska, misalnya, diperoleh melalui pembelian dari Rusia pada tahun 1867.
Kesepakatan ini mengakhiri upaya Rusia membangun pengaruh di pesisir Pasifik Amerika Utara sekaligus memperkuat posisi AS sebagai kekuatan baru di kawasan Asia-Pasifik.
Rusia yang telah menjelajahi Alaska sejak abad ke-18 menghadapi keterbatasan populasi, masalah keuangan, serta dampak kekalahan dalam Perang Crimea, sehingga memilih melepas wilayah tersebut.
Demi menghambat pengaruh Inggris, Rusia menawarkan Alaska kepada AS. Menteri Luar Negeri William Seward menyepakati pembelian itu dengan nilai USD7,2 juta.
Meski sempat dicemooh sebagai “Kebodohan Seward”, nilai strategis Alaska terbukti penting, terutama saat Perang Dunia II, sebelum akhirnya resmi menjadi negara bagian AS pada 3 Januari 1959.
Wilayah lain adalah Florida, yang diperoleh dari Spanyol. Setelah Inggris mengembalikan Florida Timur dan Barat kepada Spanyol pada 1783, arus imigran Amerika ke Florida Barat meningkat.
Pemberontakan pada 1810 dimanfaatkan Presiden James Madison untuk mengklaim wilayah tersebut.
Ketegangan memuncak ketika Jenderal Andrew Jackson merebut benteng Spanyol pada 1818.
Melalui Perjanjian Onís–Adams tahun 1819, Spanyol menyerahkan Florida Timur kepada AS dan mengakhiri klaimnya atas Florida Barat, sekaligus menetapkan batas wilayah Pembelian Louisiana.
Louisiana menjadi salah satu akuisisi terbesar AS. Pada 1803, Amerika Serikat membeli sekitar 530 juta hektare wilayah dari Prancis dengan nilai USD15 juta.
Napoleon Bonaparte, yang menghadapi ancaman perang dengan Inggris dan kegagalan militer di Karibia, memutuskan menjual wilayah tersebut.
Kesepakatan ini menggandakan luas wilayah AS dan memperkuat kekuasaan federal di wilayah barat.
Selanjutnya, Pembelian Gadsden dari Meksiko pada 1854 menambah wilayah AS seluas hampir 29.670 mil persegi.
Dengan nilai USD10 juta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Arizona dan New Mexico itu dimaksudkan untuk membuka jalur kereta api transkontinental selatan serta meredakan konflik pasca-Perang Meksiko–Amerika.
Texas juga bergabung ke dalam AS melalui proses aneksasi. Awalnya bagian dari Meksiko setelah negara tersebut merdeka dari Spanyol, Texas dihuni oleh banyak imigran Anglo-Amerika.
Pada 1836, wilayah ini memproklamasikan kemerdekaan dan berdiri sebagai Republik Texas selama hampir satu dekade.
Pada 1845, AS secara resmi menganeksasi Texas, langkah yang dianggap ilegal oleh Meksiko dan memicu perang.
Konflik tersebut berakhir dengan Perjanjian Guadalupe Hidalgo, yang membuat Meksiko kehilangan Texas secara resmi.
Amerika Serikat juga memperoleh Hawaii melalui perebutan kekuasaan.
Pada 1893, kelompok pengusaha dan penduduk yang bersekutu dengan AS dengan dukungan Marinir AS menggulingkan Kerajaan Hawaii dan melengserkan Ratu Liliʻuokalani.
Melalui Resolusi Bersama tahun 1898, Hawaii dianeksasi dan berada di bawah kendali AS hingga akhirnya menjadi negara bagian ke-50 pada 21 Agustus 1959.
Sementara itu, Wilayah Oregon menjadi bagian AS setelah melalui persaingan klaim antara Spanyol, Inggris, Rusia, dan Amerika Serikat.
Spanyol melepaskan klaimnya pada 1819, disusul Rusia yang pengaruhnya ditekan oleh AS.
Sengketa dengan Inggris baru diselesaikan melalui Perjanjian Oregon tahun 1846, yang menetapkan batas wilayah dan mengakhiri konflik diplomatik panjang.
Sejak saat itu, Oregon resmi menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Sejarah panjang ekspansi wilayah tersebut memperlihatkan bahwa wacana pencaplokan Greenland bukanlah fenomena baru dalam kebijakan geopolitik Amerika Serikat, melainkan kelanjutan dari pola lama yang pernah membentuk peta wilayah negara tersebut.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]