WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan global kian memuncak setelah Arab Saudi mendesak Amerika Serikat menghentikan blokade Selat Hormuz dan segera kembali ke jalur diplomasi demi mencegah eskalasi yang lebih luas pada Senin (13/4/2026).
Desakan tersebut muncul di tengah kekhawatiran serius bahwa langkah Washington dapat memicu respons balasan Iran yang berpotensi memperluas konflik ke jalur strategis lain.
Baca Juga:
Operasi Blokade Dimulai, Trump Ancam Hancurkan Kapal di Selat Hormuz
Pejabat Arab memperingatkan bahwa Iran bisa saja menutup Selat Bab El Mandeb di Laut Merah sebagai “kartu as kedua” jika tekanan terhadap mereka terus meningkat.
“Presiden Trump jelas ingin Selat Hormuz sepenuhnya terbuka untuk memfasilitasi arus bebas energi,” kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly.
Pemerintah Amerika Serikat juga menegaskan bahwa komunikasi dengan sekutu di kawasan Teluk terus dilakukan untuk memastikan stabilitas regional tetap terjaga.
Baca Juga:
Jurus Mitigasi Melambungnya Harga Plastik
“Pemerintahan terus berhubungan dengan para sekutu di Teluk, yang dibantu presiden dengan memastikan Iran tidak dapat memeras Amerika Serikat atau negara lain,” sambungnya.
Arab Saudi menilai kebijakan blokade tersebut berisiko besar karena dapat mendorong Iran untuk memperluas tekanan dengan memanfaatkan jalur strategis lain di kawasan.
Kekhawatiran ini mengarah pada potensi penutupan Selat Bab El Mandeb yang menjadi penghubung vital antara Laut Merah dan Samudera Hindia serta jalur utama perdagangan Asia-Eropa melalui Terusan Suez.
Pejabat Arab menyebut Iran dapat menggerakkan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup jalur tersebut sebagai bentuk balasan atas tekanan Amerika Serikat.
“Jika Iran ingin menutup Bab El Mandeb, Houthi adalah mitra yang jelas untuk melakukannya, dan respons mereka terhadap konflik Gaza menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk itu,” kata pakar Yaman dari New America Adam Baron.
Media Iran juga memberi sinyal bahwa opsi penutupan jalur Laut Merah bisa dipertimbangkan sebagai respons terhadap blokade yang diberlakukan di Selat Hormuz.
Kelompok Houthi diketahui memiliki kendali atas garis pantai strategis di sekitar Bab El Mandeb dan telah berulang kali menunjukkan kemampuan mengganggu pelayaran menggunakan rudal dan drone.
Meski intensitas serangan menurun pasca gencatan senjata Gaza pada Oktober 2025, arus perdagangan di kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih.
Houthi sejauh ini menahan diri dalam konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, namun tetap menjadi faktor kunci yang dapat memicu eskalasi jika situasi memburuk.
Arab Saudi sendiri sebelumnya mengandalkan jalur alternatif melalui Laut Merah untuk menjaga ekspor minyak sekitar tujuh juta barel per hari, namun jalur ini terancam jika Bab El Mandeb ikut ditutup.
Data menunjukkan bahwa sebelum konflik Gaza, sekitar 9,3 juta barel minyak per hari melintasi jalur tersebut, namun kini jumlahnya menurun drastis akibat gangguan keamanan.
“Iran memandang Bab El Mandeb seperti halnya Hormuz. Jika Gedung Putih mengulangi kesalahannya, maka mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu sinyal,” ujar penasihat pemimpin tertinggi Iran Ali Akbar Velayati pada 5 April.
Negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, kini mendorong solusi diplomatik untuk meredakan ketegangan dan menghindari skenario terburuk yang dapat mengguncang ekonomi global.
Meski di ruang publik kedua pihak menunjukkan sikap keras, komunikasi melalui jalur mediator masih terus berlangsung sebagai upaya menjaga peluang dialog tetap terbuka.
Di sisi lain, Iran juga melontarkan ancaman serius terhadap pelabuhan negara-negara tetangga jika tekanan terhadap mereka terus meningkat.
“Jika keamanan pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Laut Oman terancam, maka tidak ada pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman,” demikian pernyataan militer Iran yang disiarkan IRIB News.
Analis menilai bahwa risiko eskalasi tetap tinggi, terutama jika kedua pihak tidak segera menemukan titik temu melalui jalur diplomasi.
“Itu akan menjadi cara bagi Iran untuk membalas, dengan mengatakan bahwa jika Anda membatasi ekspor minyak kami, maka kami akan mengganggu ekspor dari terminal Yanbu,” ujar analis SEB Erik Meyersson.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam posisi rawan, dengan dampak yang berpotensi meluas ke stabilitas perdagangan dan pasokan energi global.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]