Presiden AS Donald Trump menyatakan 49 pemimpin Iran telah tewas dalam serangan, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Selain itu, pesawat pembom siluman B-2 milik AS dilaporkan menyerang fasilitas rudal balistik Iran yang diperkuat pada Minggu malam sebagai bagian dari gelombang serangan lanjutan.
Baca Juga:
Ngeri! Dua Jet Tempur AS Tabrakan di Udara, Empat Pilot Lolos dari Maut
Di sisi lain, setidaknya enam personel militer AS dilaporkan tewas dan 18 lainnya mengalami luka parah sejak operasi dimulai.
Iran merespons dengan meluncurkan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menyasar negara-negara Teluk, lokasi di mana aset militer AS ditempatkan.
Menurut pengamat militer dan pertahanan internasional dari King's College London, Prof. Michael Clarke, kondisi menipisnya stok rudal utama menunjukkan adanya risiko overextension dalam strategi tempur Amerika Serikat.
Baca Juga:
Obama Bangga Kesepakatan Nuklir Iran 2015 Tak Picu Pertumpahan Darah
“Ketika stok Tomahawk dan SM-3 menipis, itu bukan hanya soal logistik, melainkan menyangkut daya gentar strategis dan kemampuan mempertahankan operasi jangka panjang,” ujarnya.
Ia menilai eskalasi serangan tanpa perhitungan kapasitas suplai dapat menciptakan celah keamanan baru, terutama jika konflik meluas ke kawasan Teluk dan melibatkan lebih banyak aktor regional.
“Dalam perang modern, keberlanjutan logistik sama pentingnya dengan kemenangan taktis di medan tempur,” katanya.