"Kami menghapus, untuk tahun-tahun mendatang, bahaya yang menggantung di atas kami berupa pemusnahan penduduk Israel. Itulah yang kami lakukan. Kami menyelamatkan Negara Israel dari kehancuran," klaim Netanyahu dalam konferensi persnya demi membangun narasi kemenangan historis.
Namun, klaim sepihak Netanyahu tersebut dinilai tidak kredibel dan tidak disambut baik oleh publik dalam negeri. Mantan penasihat pemerintah Israel, Daniel Levy, menyebut ada arogansi rasis kolonial dan keangkuhan berpikir bahwa menyeret militer AS ke dalam perang otomatis akan menghancurkan rezim Iran, yang pada kenyataannya tidak terjadi.
Baca Juga:
AS-Iran Rujuk Menteri Keamanan Israel Tidak Terima, Minta Netanyahu Serang Lebanon
Iran di Atas Angin?
Debat domestik di Israel kini bergeser pada status baru Iran sebagai kekuatan regional yang dominan sekaligus potensi mereka menjadi negara nuklir pascaperang. Meskipun Trump menjamin bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, mekanisme pengawasan gudang uranium Teheran masih dipertanyakan oleh banyak pengamat militer.
Banyak pihak di Iran meyakini bahwa negara mereka keluar sebagai pemenang dalam perang ini, terutama setelah berhasil memukul balik perekonomian dunia lewat penutupan Selat Hormuz. Atas dasar itulah, AS diprediksi akan sangat kesulitan membujuk Teheran agar bersedia menyerahkan seluruh persediaan uranium yang telah mereka perkaya.
Baca Juga:
Iran Bakal Serang Perusahaan Elon Musk di Timur Tengah, Upaya Balas Dendam
"Netanyahu menimpakan bencana strategis pada Israel. Dia memulai perang dengan Iran yang bertujuan untuk menggulingkan rezimnya, tetapi rezim tersebut masih berdiri dan sekarang menjadi lebih radikal. Iran akan membangun kembali persenjataan rudalnya," tegas Ahron Bregman, pengamat senior Departemen Studi Perang di King's College London.
Ketidakpastian juga menyelimuti masa depan operasi militer Israel di Lebanon, mengingat Iran selalu menuntut penghentian agresi terhadap Hezbollah sebagai syarat mutlak perdamaian. Hubungan diplomatik antara Tel Aviv dan Washington diprediksi akan semakin mendingin setelah Trump secara terbuka menegaskan bahwa Netanyahu harus bertindak lebih bertanggung jawab terhadap negara tetangganya.
Bregman bahkan memprediksi bahwa Lebanon akan menjadi pemantik atau pemicu utama bagi babak pertempuran baru yang tak terhindarkan antara Israel dan Iran di masa depan. Ia meragukan ada presiden AS yang cukup waras untuk mau ikut terseret kembali dalam perang melawan Iran, mengingat faktor geografi dan senjata ekonomi Selat Hormuz sepenuhnya berpihak pada Teheran.