Ironisnya, dukungan politik di dalam negeri Amerika Serikat juga mulai mengikuti pola Rusia, di mana para elit politik yang awalnya kritis perlahan mulai memberikan dukungan dengan alasan nasionalisme. Bahkan kritikus Trump seperti Michael McFaul mengakui dilema tersebut.
"Begitu presiden kita membuat keputusan untuk berperang, bahkan ketika saya tidak setuju dengan keputusan dan prosesnya-seperti yang terjadi dalam perang kita dengan Iran saat ini-saya tetap ingin angkatan bersenjata kita menang," tulis mantan Duta Besar AS untuk Moskow, Michael McFaul.
Baca Juga:
Kediaman Presiden Putin Diserang, Donald Trump Marah
Kini, kekhawatiran terbesar adalah apakah Amerika Serikat akan terjebak dalam lubang yang sama dengan Rusia di Ukraina, terutama dengan rencana pengiriman pasukan elite untuk mengamankan cadangan uranium Iran. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa tujuan yang jelas, kesuksesan militer awal bisa berubah menjadi bencana jangka panjang.
Danny Citrinowicz, pengamat dari Atlantic Council, memberikan peringatan keras bahwa ambisi yang tidak realistis akan menyeret Amerika ke dalam perang yang tidak berujung. Ia menekankan pentingnya penetapan target yang terukur agar tidak terjebak dalam perang atrisi.
"Ketika tujuan strategis menjadi terlalu ambisius atau tidak realistis, bahkan kampanye militer yang sukses pun lambat laun dapat merosot menjadi perang atrisi. Untuk menghindari hasil tersebut, sangat penting untuk menetapkan tujuan yang jelas dan realistis-tujuan yang dapat diukur dan memberikan titik yang jelas di mana kampanye dapat berakhir," pungkas Citrinowicz dikutip The Guardian.
Baca Juga:
Kediaman Presiden Rusia Diserang Drone Ukraina, Putin Ingatkan AS Takkan Dibiarkan Tanpa Balasan
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.