Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa pihaknya memiliki mandat untuk menyelesaikan kekacauan di Timur Tengah. Ia menegaskan posisi Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump saat ini.
"Kami tidak memulai perang ini, tetapi di bawah Presiden Trump, kami akan menyelesaikannya," ujar Pete Hegseth dalam pengarahannya pekan lalu.
Baca Juga:
Kediaman Presiden Putin Diserang, Donald Trump Marah
Ucapan tersebut hampir identik dengan apa yang disampaikan Vladimir Putin di awal invasi Ukraina. Pemimpin Rusia itu juga mengeklaim hal yang sama untuk membenarkan tindakan militernya di depan rakyat Rusia dan dunia internasional.
"Kami tidak memulai apa yang disebut perang di Ukraina ini. Kami hanya mencoba untuk mengakhirinya," kata Vladimir Putin pada Februari 2022 silam.
Selain kesamaan retorika, kedua pemimpin juga menunjukkan gejala meremehkan durasi konflik. Putin mengira Kyiv akan jatuh dalam hitungan minggu, sementara Trump merasa percaya diri setelah kesuksesan operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, awal tahun ini.
Baca Juga:
Kediaman Presiden Rusia Diserang Drone Ukraina, Putin Ingatkan AS Takkan Dibiarkan Tanpa Balasan
Bahkan, kedua pemerintahan sama-sama enggan menggunakan istilah "perang" untuk mendeskripsikan aksi mereka. Jika Rusia menggunakan istilah Operasi Militer Khusus, pejabat tinggi di Washington lebih suka menyebutnya sebagai operasi yang terbatas.
Ketua DPR AS, Mike Johnson, menepis anggapan bahwa Amerika Serikat saat ini tengah terjebak dalam perang skala penuh dengan Iran. Ia bersikeras bahwa apa yang terjadi saat ini hanyalah langkah taktis yang terukur.
"Saya pikir ini adalah sebuah operasi yang terbatas," kata Mike Johnson saat ditanya mengenai status serangan Amerika Serikat terhadap Iran.