"Gagasan bahwa Presiden Trump akan menerima daftar keinginan Iran sebagai sebuah kesepakatan adalah hal yang sepenuhnya tidak masuk akal. Presiden hanya akan membuat kesepakatan yang melayani kepentingan terbaik Amerika Serikat," ujar Leavitt.
Di sisi lain, Presiden Trump sempat menyatakan pada Selasa malam bahwa proposal Iran merupakan basis yang dapat dikerjakan untuk bernegosiasi. Leavitt menambahkan bahwa Trump dan para pembantunya akan fokus pada pembicaraan dengan Iran selama dua minggu ke depan, selama Selat Hormuz tetap terbuka tanpa batasan atau penundaan.
Baca Juga:
Kementerian ESDM Ungkap RI Simpan Bahan Baku Nuklir, di Sini Lokasinya
Juru bicara tersebut mengonfirmasi bahwa putaran pertama negosiasi akan berlangsung di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Sabtu mendatang. Delegasi AS akan dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi Utusan Khusus Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner.
Namun, pada Rabu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan keraguan atas nasib pembicaraan tersebut. Ghalibaf menuduh AS dan Israel telah melanggar gencatan senjata dengan melanjutkan perang di Lebanon, gagal menghentikan drone memasuki wilayah udara Iran, serta menyangkal hak pengayaan uranium Teheran.
"Sekarang, 'basis yang dapat dikerjakan untuk bernegosiasi' itu telah dilanggar secara terbuka dan jelas, bahkan sebelum negosiasi dimulai. Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi adalah hal yang tidak masuk akal," tulis Ghalibaf melalui akun X miliknya.
Baca Juga:
AS untuk Pertama Kali Bakal Kirim Amunisi Peluru Penembus Baja ke Ukraina
Menanggapi klaim kemenangan dari kedua belah pihak, Leavitt menggemakan pernyataan Pentagon yang mengeklaim keunggulan atas Iran. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer Iran telah dilumpuhkan melalui operasi militer besar-besaran.
"Angkatan laut mereka, rudal mereka, basis industri pertahanan mereka, serta keinginan dan rencana mereka untuk membangun bom nuklir di dalam negeri mereka tidak akan lagi diizinkan, tidak dapat lagi terjadi, berkat kesuksesan luar biasa dari Operasi Epic Fury," tegas Leavitt.
Pemerintahan Trump menyatakan bahwa serangan AS dan Israel telah menghancurkan kemampuan militer Iran, meskipun Iran terus menembakkan rudal dan drone ke arah Israel serta ke seluruh wilayah regional sepanjang konflik. Washington berargumen bahwa alasan utama perang adalah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, walau Trump sempat mengeklaim pada Juni 2025 bahwa serangan AS sebelumnya telah melenyapkan program nuklir Iran.