WAHANANEWS.CO, Jakarta – Pemerintah AS menekankan bahwa Presiden Donald Trump tidak pernah menyetujui "daftar keinginan" yang diajukan oleh Teheran di tengah situasi konflik yang memanas.
Gedung Putih secara tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) tetap menolak aktivitas pengayaan uranium dalam bentuk apa pun di dalam wilayah Iran.
Baca Juga:
Kementerian ESDM Ungkap RI Simpan Bahan Baku Nuklir, di Sini Lokasinya
Melansir CNBC Indonesia, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan pada Rabu (08/04/2026) bahwa proposal 10 poin yang diajukan Iran sebagai basis gencatan senjata dalam perang AS-Israel melawan Iran sangat berbeda dengan proposal yang dipublikasikan oleh pemerintah Teheran.
Mengutip Al Jazeera, rencana awal tersebut mencantumkan tuntutan agar AS menerima hak Iran untuk memperkaya uranium, pemberian keringanan sanksi, serta penghentian serangan secara permanen terhadap Iran.
"Garis merah Presiden, yakni penghentian pengayaan uranium Iran di dalam wilayah Iran, belum berubah. 10 poin Teheran telah kami buang ke tong sampah, " kata Leavitt.
Baca Juga:
AS untuk Pertama Kali Bakal Kirim Amunisi Peluru Penembus Baja ke Ukraina
Masalah pengayaan uranium domestik telah menjadi titik hambatan utama dalam pembicaraan sebelumnya antara Teheran dan Washington. Meski Iran berulang kali menyatakan tidak mengincar senjata nuklir dan bersikeras bahwa pengayaan uranium adalah hak nasional, pemerintahan Trump tetap mendorong pembongkaran total program nuklir negara tersebut.
Setelah lebih dari 38 hari peperangan, Washington dan Teheran sebenarnya telah mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan ini mencakup penghentian serangan AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran, yang penutupannya di awal konflik sempat memicu lonjakan harga energi global.
Leavitt membeberkan bahwa proposal 10 poin awal dari Iran secara harfiah telah dibuang ke tempat sampah oleh tim Trump, sebelum akhirnya Teheran mengajukan rencana yang telah direvisi.