WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan militer kembali meningkat, pesawat pengebom strategis Amerika Serikat B-52H Stratofortress mendadak mengirim sinyal darurat saat terbang di atas Inggris pada Selasa (24/3/2026).
Insiden ini terjadi ketika pesawat milik Angkatan Udara AS tersebut melintasi wilayah Bristol di barat Inggris pada pagi hari waktu setempat.
Baca Juga:
Hanya 36 Persen Warga AS Masih Dukung Trump
“Pesawat mengirimkan kode 7700,” yang merupakan sinyal internasional untuk menunjukkan kondisi darurat atau urgensi di dalam penerbangan.
Berdasarkan data pelacakan penerbangan, pesawat tersebut diketahui lepas landas dari Pangkalan Udara RAF Fairford pada pukul 09.20 waktu setempat.
Selang sekitar 18 menit setelah lepas landas, pesawat memancarkan sinyal darurat sebelum akhirnya berputar arah.
Baca Juga:
AS Tiba-tiba Ajukan 15 Poin ke Iran, Ada Tawaran Besar di Balik Gencatan Senjata
Pesawat kemudian mendarat kembali di RAF Fairford sekitar pukul 09.40 waktu setempat.
Hingga kini, penyebab pasti dari kondisi darurat tersebut belum dapat dipastikan.
Pihak Kementerian Pertahanan Amerika Serikat maupun Inggris belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.
Kehadiran B-52H di Inggris merupakan bagian dari pengerahan kekuatan militer AS di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Pesawat ini merupakan satu dari enam unit B-52 Stratofortress dan 12 unit B-1B Lancer yang ditempatkan di RAF Fairford sejak minggu kedua Maret.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sebelumnya telah memberikan izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan tersebut.
Selain itu, Inggris juga mengizinkan penggunaan pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia untuk kepentingan defensif selama konflik Iran berlangsung.
Keputusan ini diambil di tengah dinamika hubungan antara Starmer dan Presiden AS Donald Trump terkait sikap terhadap operasi militer di Timur Tengah.
B-52H Stratofortress dikenal sebagai pesawat pengebom strategis jarak jauh yang mampu membawa senjata nuklir maupun konvensional.
Laporan menyebutkan bahwa pesawat yang beroperasi dari RAF Fairford kini mulai dilengkapi bom pintar GBU-31 sebagai pengganti rudal stand-off AGM-158.
Insiden darurat ini terjadi tak lama setelah jatuhnya pesawat pengisi bahan bakar KC-135 di Irak barat yang menewaskan enam awak.
Pesawat tersebut diketahui tengah menjalankan misi mendukung operasi militer terhadap Iran.
“Penyelidikan masih berlangsung,” terkait insiden KC-135 tersebut.
Namun demikian, pihak Komando Pusat AS menegaskan bahwa kecelakaan tersebut bukan disebabkan oleh tembakan musuh maupun tembakan kawan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]