WAHANANEWS.CO, Jakarta - Blokade Selat Hormuz yang diperintahkan Presiden Amerika Serikat justru langsung diuji dalam hitungan jam, ketika sejumlah kapal tanker, termasuk yang terkait Iran, berhasil lolos dari pengawasan militer.
Langkah tersebut diambil setelah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan mengalami kebuntuan, yang kemudian mendorong Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade sejak Senin (13/4/2026).
Baca Juga:
Iran Setuju Hentikan Program Pengayaan Nuklir 5 Tahun, Tapi AS Minta 20
Namun, efektivitas operasi itu langsung dipertanyakan setelah dalam 24 jam pertama setidaknya tujuh kapal berhasil melintasi selat tanpa hambatan berarti.
Dari jumlah tersebut, empat kapal tanker diketahui memiliki keterkaitan dengan Iran.
Salah satu kapal bahkan merupakan milik China yang sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada 2023 karena mengangkut minyak Iran.
Baca Juga:
Kerusakan Serangan AS-Israel ke Iran Ditaksir Capai 270 Miliar Dolar AS
Kapal tersebut terpantau berada di sisi lain selat, tepatnya di Teluk Oman, pada Selasa (14/4/2026).
Selain itu, kapal tanker lain yang juga terkena sanksi, Rich Starry, tercatat sebagai kapal pertama yang berhasil keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz berdasarkan data pelacakan pelayaran.
Banyak pihak menilai bahwa blokade ini sejatinya menargetkan armada bayangan Iran yang selama ini memasok minyak ke China.
Meski demikian, tujuan akhir dari kebijakan tersebut dinilai belum jelas oleh sejumlah analis internasional.
Disampaikan Andrea Ghiselli, asisten profesor hubungan internasional Universitas Fudan Beijing, bahwa salah satu kemungkinan tujuan blokade adalah menekan negara-negara pengimpor minyak Iran.
"Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah untuk menekan negara-negara pengimpor minyak Iran, terutama China, agar mendesak Iran untuk menerima syarat-syarat AS untuk mengakhiri perang," kata Ghiselli, Selasa (14/5/2026).
Namun, ia menilai asumsi tersebut tidak sepenuhnya terbukti di lapangan karena sejumlah kapal yang dikenai sanksi justru tetap bisa melintas.
"Namun, ada laporan tentang kapal milik China, yang dikenal memfasilitasi perdagangan minyak Iran dan dikenai sanksi, telah melintas melalui selat tanpa dihentikan, (sehingga) hipotesis pertama itu tampaknya salah," lanjut dia.
Para analis lain menyebut bahwa langkah Trump lebih berorientasi pada upaya menekan perekonomian Iran melalui jalur energi.
Namun kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi besar terhadap stabilitas pasokan minyak global.
Disebutkan CEO Rapidan Energy Group, Scott Modell, bahwa langkah ini berisiko memicu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
"Pada dasarnya, dia (Trump) menerima kenaikan harga minyak sebagai harga yang harus dibayar untuk membangun pengaruh tambahan ini, dengan bertaruh bahwa kesabaran masyarakat AS terhadap harga bensin di atas 4 dollar AS lebih besar daripada kesediaan Iran untuk menanggung penderitaan ekonomi,” sambungnya.
Dampak lanjutan dari situasi ini diperkirakan akan terus berlanjut karena pelayaran internasional kemungkinan memilih menghindari Selat Hormuz.
Hal ini dipicu oleh tingginya premi asuransi serta kekhawatiran akan potensi serangan lanjutan di kawasan Teluk jika konflik kembali memanas.
Sebelumnya, militer Amerika Serikat mulai memberlakukan pembatasan lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran sejak Senin (13/4/2026) sesuai instruksi Presiden.
Blokade tersebut mencakup kapal dari berbagai negara yang memasuki maupun meninggalkan pelabuhan Iran, termasuk wilayah pesisir di Teluk Arab dan Teluk Oman.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]