“Kami melihat kebijakan ini berpotensi menciptakan sistem pengecualian dua tingkat yang tidak adil,” ujar Presiden MBAA, Alanna Temme.
Ia menilai bahwa kebijakan tersebut cenderung menguntungkan perusahaan besar yang telah lebih dulu menandatangani kesepakatan dengan pemerintah AS.
Baca Juga:
Trump Tak Puas Proposal Damai Iran, Sebut AS Punya Dua Opsi Akhiri Perang
“Produsen obat menengah tidak memiliki portofolio yang terdiversifikasi untuk menyerap kenaikan biaya mendadak ini,” lanjutnya.
Sejumlah perusahaan besar seperti Pfizer dan Eli Lilly telah mengamankan posisi mereka dengan menandatangani kesepakatan yang membebaskan mereka dari tarif selama tiga tahun.
Sementara itu, banyak perusahaan lain, termasuk hampir setengah anggota kelompok lobi industri PhRMA, masih belum mengambil langkah serupa dan kini menghadapi tekanan besar.
Baca Juga:
Pentagon Bongkar Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp433,8 Triliun
Perusahaan farmasi kecil dan menengah pun mulai mencari berbagai skema pengaturan individual untuk menghindari dampak tarif serta aturan harga baru yang diberlakukan pemerintah AS.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.