WahanaNews.co | Rusia diprediksi masih memiliki sumber daya yang cukup guna melanjutkan perang di Ukraina hingga dua tahun ke depan.
Kepala Intelijen Militer Lithuania, Elegijus Paulavicius, mengungkapkan dengan sumber daya, cadangan strategis, amunisi persenjataan dan intensitas seperti sekarang, Rusia masih memiliki kemampuan yang mumpuni untuk melanjutkan perang.
Baca Juga:
Utusan Khusus Rusia Kirill Dmitriev Umumkan Pembicaraan dengan Perwakilan Pemerintahan Trump
"Sumber daya yang dimiliki Rusia saat ini masih memadai untuk melanjutkan perang. Dengan intensitas seperti sekarang, perang bisa berlanjut selama dua tahun," kata Paulavicius, dikutip dari Reuters.
"Berapa lama Rusia mampu berperang juga akan tergantung pada dukungan militer Rusia dan negara-negara lain, seperti Iran dan Korea Utara," imbuhnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Iran diketahui diam-diam memasok amunisi ke Rusia melalui kapal kargo.
Baca Juga:
Siap Kuasai Udara, Rusia Tampilkan Prototipe Senjata Laser Antidrone
Sejak Januari lalu, kedua kapal kargo tersebut telah mengirimkan banyak amunisi, termasuk peluru, peluncur roket, mortir, dan senapan mesin.
Menurut penyelidikan, salah satu kapal meninggalkan pelabuhan Iran sekitar 10 Januari. Saat kapal kedua di 12
"200 kontainer di dua kapal dapat membawa amunisi sebanyak itu," kata seorang sumber keamanan kepada Sky News.
Kapal kargo tersebut diduga membawa 100 juta peluru dengan berbagai ukuran antara lain 5.56mm, 7.62mm, 9mm, 12.7mm dan 14.5mm. Semua jenis peluru ini dapat digunakan di berbagai senjata mulai dari pistol, senapan serbu, dan senapan mesin.
Mengutip CNN Indonesia, kedua tongkang juga memiliki peluru 40 mm untuk mortir, rudal anti-tank 107 mm, peluru dengan berbagai ukuran dan peluru artileri.
Selain mengungkap kemampuan militer Rusia, BIN Lithuania juga mengungkap beberapa peretasan yang dilakukan China dan Rusia. Negara-negara diketahui mencoba masuk ke komputer pemerintah Lituania pada tahun 2022. Namun, pihak Lithuania tidak mengatakan apakah upaya peretasan itu berhasil.
Lituania adalah salah satu negara Eropa yang telah menjadi salah satu kritikus paling keras terhadap Rusia. Lituania juga mengajukan keberatan dari China ketika memberi Taiwan kesempatan untuk membuka kedutaan de facto pada tahun 2021. [ast/eta]